Yogyakarta (beritajatim.com)- Pertumbuhan investasi di Indonesia belum tentu sejalan dengan bertambahnya lapangan kerja. Di tengah meningkatnya jumlah pencari kerja, otomatisasi dan lambatnya perkembangan industri justru menjadi tantangan dalam menyediakan pekerjaan bagi masyarakat.
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. R. Agus Sartono, MBA., menilai persoalan ketenagakerjaan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kompetensi pencari kerja, tetapi juga kemampuan industri menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Setiap tahun, pasar kerja harus menampung jutaan lulusan baru dari berbagai jenjang pendidikan. Pada saat bersamaan, masih ada pencari kerja yang belum mendapatkan pekerjaan, pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), serta masyarakat yang ingin berpindah ke pekerjaan baru.
Ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan kerja membuat persaingan semakin ketat. Bahkan, lulusan perguruan tinggi tidak jarang harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang sebelumnya dapat diisi oleh lulusan sekolah menengah.
Menurut Agus, persoalan ini tidak cukup diatasi dengan meningkatkan jumlah lulusan berpendidikan tinggi. Pertumbuhan kesempatan kerja juga harus menjadi perhatian agar penambahan jumlah tenaga kerja tidak semakin memperbesar persaingan di pasar kerja.
Otomatisasi Mengubah Kebutuhan Tenaga Kerja
Salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan pekerjaan adalah penggunaan teknologi untuk menggantikan sejumlah tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia.
Agus menjelaskan, otomatisasi memang membantu perusahaan meningkatkan efisiensi. Namun, penerapan teknologi juga dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada bidang tertentu.
“Memang teknologi juga membuka ruang untuk perusahaan, tapi berapa banyak orang yang bergantikan dengan mesin,” ujar Agus, Kamis (15/10).
Perubahan tersebut dapat dilihat pada layanan pelanggan dan sektor perbankan. Jika sebelumnya masyarakat banyak berinteraksi langsung dengan petugas, kini sebagian layanan telah beralih ke mesin maupun platform digital.
Perusahaan memang memperoleh keuntungan dari proses kerja yang lebih cepat dan efisien. Namun, kondisi tersebut sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan sektor usaha dalam mempertahankan dan menciptakan pekerjaan baru bagi tenaga kerja yang terdampak.
Di sisi lain, perlambatan industrialisasi juga dinilai membatasi kemampuan perekonomian dalam menyediakan lapangan kerja. Indonesia membutuhkan sektor industri yang mampu menampung banyak pekerja agar pertumbuhan jumlah pencari kerja dapat diimbangi dengan penambahan kesempatan kerja.
Agus mencontohkan industri tekstil yang harus menghadapi persaingan dengan produk impor. Ia juga menyoroti dilema industri rokok yang berada di tengah upaya pengendalian konsumsi, meskipun sektor tersebut turut menyediakan pekerjaan bagi masyarakat.
“Jadi industri-industri yang menyerap kerja yang cukup besar ini, tidak cukup tumbuh untuk menampung sumber daya manusia yang besar,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan industri perlu dilihat bukan hanya dari nilai produksi dan keuntungan perusahaan, tetapi juga dari kontribusinya dalam menciptakan pekerjaan.
Investasi Padat Modal, Penyerapan Tenaga Kerja Terbatas
Besarnya nilai investasi yang masuk ke Indonesia juga tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah tenaga kerja yang terserap.
Agus menyoroti investasi asing yang cenderung bersifat padat modal atau *capital-intensive*. Investasi jenis ini mengandalkan modal, mesin, dan teknologi dalam menjalankan kegiatan usaha.
Dalam proyek tertentu, kebutuhan pekerja dapat meningkat ketika pembangunan berlangsung. Namun, setelah perusahaan mulai beroperasi, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan bisa jauh lebih sedikit karena sebagian proses telah menggunakan teknologi dan mesin.
“Jadi sebenarnya begini, investasi dari luar negeri yang masuk itu kebanyakan dari capital intensive,” ungkapnya.
Menurut Agus, karakter investasi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan arah pembangunan ekonomi. Masuknya modal dalam jumlah besar memang dapat mendukung aktivitas usaha, tetapi dampaknya terhadap kesempatan kerja juga perlu diperhitungkan.
Ia mengingatkan bahwa keterbatasan pekerjaan dapat memicu persoalan ekonomi yang lebih luas, terutama ketika masyarakat kehilangan sumber pendapatan.
“Kalau industri itu tidak mampu menyerap besar tenaga kerja, terus orang-orang ini tidak bekerja. Kalau dia tidak kerja, dia tidak punya penghasilan. Kalau dia tidak punya penghasilan, dia tidak punya daya beli, siapa yang akan membeli produk-produk industri?” paparnya.
Pernyataan tersebut menegaskan hubungan antara lapangan kerja, pendapatan, dan daya beli masyarakat. Ketika seseorang tidak memiliki pekerjaan, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membeli barang maupun jasa akan ikut terbatas.
Padahal, daya beli masyarakat menjadi salah satu penopang permintaan pasar. Jika permintaan melemah, perusahaan juga dapat menghadapi kesulitan menjual produknya. Akibatnya, peluang untuk memperluas usaha dan membuka pekerjaan baru berpotensi ikut terhambat.
Karena itu, penciptaan lapangan kerja perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar dampak tambahan dari investasi.
Ekonomi Daerah Bisa Menjadi Sumber Lapangan Kerja Baru
Selain mengembangkan industri berskala besar, Agus menilai penguatan ekonomi daerah dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas kesempatan kerja.
Aktivitas ekonomi di desa, misalnya, dapat dikembangkan melalui usaha kecil yang memanfaatkan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat. Jika dikelola secara berkelanjutan, usaha tersebut berpeluang menjadi sumber penghasilan sekaligus menggerakkan perputaran ekonomi di daerah.
Indonesia juga memiliki pasar domestik yang besar. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan usaha dalam negeri, sehingga penciptaan lapangan kerja tidak hanya bergantung pada investasi asing atau pembangunan industri besar.
Pengembangan ekonomi lokal juga membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan produktif sesuai dengan potensi wilayahnya. Ketika usaha tumbuh dan pendapatan masyarakat meningkat, daya beli dapat menguat dan mendukung keberlangsungan usaha lainnya.
Pendekatan tersebut bukan berarti mengesampingkan investasi asing. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana investasi dan kebijakan ekonomi memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk melalui penciptaan pekerjaan dan peningkatan penghasilan masyarakat.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk atau pertumbuhan sektor industri. Kemampuan masyarakat memperoleh pekerjaan dan menikmati hasil kegiatan ekonomi juga menjadi bagian penting yang perlu diperhitungkan.
Penggunaan AI Jangan Mengorbankan Kemampuan Berpikir Kritis
Di tengah persaingan memperoleh pekerjaan, Agus juga mengingatkan pentingnya kesiapan lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
Menurutnya, penggunaan kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI) secara berlebihan dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis apabila mahasiswa hanya mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami prosesnya.
“Tidak apa-apa menggunakan ini, tapi menggunakan AI dan GPT itu justru akan merugikan diri sendiri, karena critical thinking skill-nya akan tergantikan oleh AI. Padahal untuk bekerja diperlukan anak seperti itu,” tuturnya.
Agus menilai, kemampuan menganalisis persoalan, mengevaluasi informasi, menyusun argumen, dan menemukan solusi tetap dibutuhkan dalam dunia profesional. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi penggunaannya perlu disertai kemampuan untuk memeriksa dan memahami hasil yang diberikan.
Untuk membangun kemampuan tersebut, mahasiswa perlu meningkatkan kebiasaan membaca, mempelajari materi sebelum perkuliahan, dan aktif berdiskusi. Proses belajar juga perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat serta mempertanggungjawabkan gagasannya.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak sekadar mampu mengakses informasi, tetapi juga dapat mengolahnya menjadi pemahaman yang relevan dengan persoalan di dunia nyata.
Meski demikian, kesiapan lulusan tidak dapat menjadi satu-satunya jawaban atas persoalan pengangguran. Pendidikan dan peningkatan keterampilan perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri serta pembukaan lapangan kerja baru.
Tantangan ketenagakerjaan Indonesia pada akhirnya tidak hanya terletak pada kemampuan pencari kerja memenuhi kebutuhan perusahaan. Pertumbuhan ekonomi juga perlu diarahkan agar mampu menyediakan pekerjaan produktif, memperkuat usaha di daerah, dan menjaga daya beli masyarakat. [aje]






