Mojokerto (beritajatim.com) – Konstruksi jembatan di di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto dinilai turut menjadi pemicu terjadinya banjir. Ditambah lagi banyaknya bangunan liar yang berdiri tepat di tepian sungai.
Konstruksi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya banjir luapan. Konstruksi fisik yang dibangun serampangan di atas saluran sehingga menghambat aluran sungai.
Saat kondisi hujan lebat, luapan air sungai tak bisa terserap tanah lantaran sudah dibeton. Akibatnya, air masuk ke daratan hingga timbul banjir.
Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati mengatakan, masalah di Desa Tempuran saat ini berbeda dari tahun sebelumnya. “Tahun ini sudah jauh lebih baik karena pembangunan dari BBWS Brantas berjalan dengan baik untuk tanggulnya. Untuk jembatan milik desa baru teranggarkan tahun 2023,” ungkapnya, Kamis (2/2/2023).
Ikfina mengatakan, pihaknya akan berupaya untuk pencairan anggaran agar bisa dilakukan peninggian jembatan. Kontruksi jembatan tersebut dinilai terlalu rendah, menyebabkan tanaman air banyak yang menyangkut sehingga menyumbat aliran sungai.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Mojokerto”]
“Luapan terjadi karena penutupan oleh jembatan yang rendah ditambah ada enceng gondok dan kangkung sehingga dilakukan pembersihan. Kita harap akhir tahun 2023, awal tahun 2024 sudah tidak lagi terjadi banjir. Kita bersyukur genangan tidak lama dan pompa air sudah ada, air di area persawahan disedot dan dialirkan ke sungai,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ikfina menyebut, ketinggian jembatan milik desa dinilai sudah tidak memadai setelah dilakukan pembangunan tanggul oleh BBWS Brantas. Akibatnya, akses yang melintasi avur Jombok tersebut menyebabkan tanaman liar tersangkut dan berdampak meluapnya air sungai yang menggenangi areal persawahan. [tin/beq]






