Jember (beritajatim.com) – Komisi Nasional Perempuan meminta Bupati Hendy Siswanto untuk membuka rumah aman bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan. Varyanto Sitohang, komisioner Komisi Nasional Perempuan, mengatakan, kekerasan terhadap perempuan adalah persoalan kemanusiaan.
Setiap tahun Komnas Perempuan menerima lebih dari empat ribu pengaduan kekerasan. “Sekitar 3.400 kasus pada 2022 merupakan kasus kekerasan terhadap perempuan. Lebih dari separuh adalah kekerasan rumah tangga dan kekerasan seksual. Dua jenis kekerasan ini merupakan isu utama yang sering kita hadapi,” kata Sitohang, dalam acara peringatan hari antikekeasan terhadap perempuan di Pendapa Wahyawibawagraha, Jumat (1/12/2023).
Merujuk pada teori gunung es, kata Sitohang, jumlah korban bisa jadi lebih banyak daripada yang berani melapor. “Kasus kekerasan ini dekat dengan kehidupan kita. Kita sudah punya Undang-Undang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Tapi masih saja terjadi kekerasan dalam rumah tangga,” katanya.
Pernikahan anak menjadi salah satu pemicu lekerasan dalam rumah tangga. “Setiap orang yang menikah di bawah usia 19 tahun disebut perkawinan anak. Kalau perkawinan anak terus-menerus terjadi, saya khawatir pada 2045, ketika kita mencanangkan Generasi Emas, kita kehilangan harapan. Ketika anak-anak menikah, harapan masa depannya mungkin suram, karena pendidikannya akan berhenti,” kata Sitohang.
Tengkes (stunting) rawan terjadi pada kehamilan dalam pernikahan usia anak. “Anak-anak yang menikah rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Dia bisa kena talak hanya mungkin lewat SMS atau WhatsApp. Perkawinan anak akan membuat masa depan daerah kita akan suram,” kata Sitohang.
Sitohang meminta masyarakat bersepakat untuk menolak perkawinan anak. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Jember ikut menyosialisasikan hal ini kepadsa masyarakat. “Alternatif lain, ada kebijakan melindungi perempuan. Mungkin ini perlu kita tingkatkan,” katanya.
Sitohang berharap Bupati Hendy Siswanto memberikan ruang bagi perempuan korban kekerasan dengan membuka rumah aman. “Mendukung mereka pulih, sehingga kemudian mereka bisa menapak hidup lebih baik pada masa mendatang,” katanya. [wir]






