Jember (beritajatim.com) – Fandi Arif Permana mohon izin masuk rumah kepada para tamunya. Dia meminta istrinya, Eka Sulfiya Nurjannah, bercerita soal kondisi sang adik, Noval Putra Aulia (19), yang menjadi korban dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam lalu.
Fandi tidak kuat bercerita. “Saya tidak tega,” katanya kepada tamu-tamunya dari Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin).
Dia lalu berdiri dan masuk ke rumahnya di Lamparan, Wirolegi, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (4/10/2022) sore.
Noval adalah bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Muhammad Rohim dan Solihah. Dia baru lulus sekolah menengah kejuruan tahun ini.
“Setahu saya, dia tidak pernah nonton sepak bola ke Malang sebelumnya. Baru kali ini,” kata Fandi.
Noval tidak minta izin kepada Fandi untuk pergi ke Malang. Jika meminta izin, Fandi tegas tak memberikan.
“Kalau pamit, tidak akan saya perbolehkan, karena mau ada tahlil 1.000 hari Bapak dan Ibu pada hari Senin. Tapi Jumat, dia sempat tanya ke saya, ‘Selamatannya jadi kapan, Mas?’ Saya bilang hari Senin,” kata Fandi.
Orangtua mereka meninggal pada 2019. Rentang waktu meninggal antara ayah dengan ibu mereka relatif berdekatan.
Minggu dini hari, Fandi mendapat kabar mengagetkan. Sang adik meninggal di Kanjuruhan. Noval ternyata berangkat ke Malang bersama teman-temannya. Kabar duka pertama justru diterima adik Fandi yang berada di Yogyakarta.
“Mungkin (teman-teman Noval) mau mengabari saya takut,” kata Fandi.
Istri Fandi, Eka, dapat info Noval dan temannya sempat terjatuh dalam insiden di dalam Stadion Kanjuruhan tersebut. Terjebak dalam kerumunan, terkena gas air mata, dan terinjak-injak.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kericuhan-laga-arema-vs-persebaya”]
“Dia sempat diangkat Aremania lainnya. Sementara Noval jatuh, tidak bisa berdiri. Kata temannya, dia terinjak-injak (penonton yang panik karena semprotan gas air mata). Noval mengaku sesak napas, karena gas. Dia tidak kuat lalu jatuh dan terinjak-injak,” katanya.
Noval berada di Tribun 12 yang jadi sasaran gas air mata. Sementara, pintu keluar tidak terbuka.
“Jadi posisi teman-teman yang berada di barisan depan terdorong orang-orang yang di belakang. Tergencet begitu,” kata Eka.
Sebelum meninggal, Noval sempat mengambil video kejadian di dalam stadion dengan kamera ponsel. “HP-nya selamat. Cuma dompetnya yang hilang,” kata Eka.
Pengurus Ikadin Jember meminta Eka mengirimkan rekaman video itu via WhatsApp. Mereka menyatakan siap mendampingi keluarga Noval, tanpa perlu biaya sepeser pun.
“Kami akan dampingi keluarga Mas Noval bila ada tuntutan perdata maupun pidana terhadap aparat yang menyebabkan matinya korban. Kami akan dampingi gratis. Tidak usah biaya,” kata Ketua Ikadin Jember Joko Wahyudi. [wir/beq]






