Surabaya (beritajatim.com) – Tahun 2012-2017 boleh dibilang sebagai tahun-tahun yang nyerempet bahaya, atau kalau meminjam istilah Bung Karno, vivere pericoloso bagi Persebaya Surabaya. Saat Persebaya diusir dari lapangan hijau, maka pada saat itulah Bonek mengosongkan stadion dan turun ke jalan.
Inilah pertarungan terkeras dalam sejarah sepak bola Indonesia yang menghadap-hadapkan klub sepak bola dan pendukungnya dengan federasi. Dan orang pun akhirnya menyadari: di sebuah kota seperti Surabaya, Persebaya bukan sekadar klub sepak bola, tapi bagian dari identitas kota.
Tahun 2013: Didiskualifikasi dan Padamnya Lampu Saat Melawan QPR
PSSI yang diketuai Djohar Arifin memutar kompetisi Liga Prima Indonesia 2013 dengan diikuti 16 klub. Namun sekali lagi, konflik internal di PSSI membuat kompetisi terhenti di tengah jalan. Diawali pada 16 Februari 2013, kompetisi berakhir pada November 2013 dengan alasan unifikasi antara Liga Prima dan Liga Super.
Persebaya sebenarnya berhak mengikuti play-off unifikasi kompetisi, karena menduduki peringkat 5 klasemen dengan mengantongi 34 angka dari 10 kemenangan, 4 hasil seri, 4 kekalahan, serta agregat gol 35-19. Namun PSSI mendiskualifikasi Bajul Ijo bersama Arema Indonesia karena tidak memenuhi syarat keanggotaan PSSI. Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan Jakarta FC didiskualifikasi karena beberapa kali tidak bertanding.
Tahun 2014: Perlawanan Bonek di Jalanan
Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia resmi tidak diakui oleh PSSI dan digantikan oleh Persebaya di bawah naungan PT Mitra Muda Inti Berlian. Dimatikannya Persebaya membuat Bonek melawan di jalanan. Ribuan orang pendukung Persebaya berunjuk rasa di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, 26 Januari 2014. Mereka mengepung Hotel Shangri-La yang menjadi lokasi Kongres Tahunan PSSI.
Bonek juga mengosongkan stadion Gelora Bung Tomo saat Persebaya versi PSSI bermain. Mereka menolak ada Persebaya yang lain bermain di Surabaya. Perlawanan juga dilakukan di bilik suara saat pemilu. Ada laporan banyak kertas suara tidak sah di Surabaya karena dicoret dengan tulisan Persebaya 1927.
Tahun 2015: Dari Stadion ke Pengadilan
Bonek beberapa kali melakukan aksi unjuk rasa di jalanan tanpa ada kerusuhan. Aksi mereka berhasil menarik perhatian pemerintah. Tak ingin konflik sepak bola nasional berlarut-larut dan mengganggu stabilitas nasional, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi membekukan PSSI yang diketuai La Nyalla Matalitti pada April 2015.
Imam juga meminta Persebaya dan Arema Cronus dicoret dari Liga Indonesia karena masih bermasalah secara administrasi. Namun PSSI melawan. Pembekuan PSSI baru dicabut pada 10 Mei 2016.
Sementara itu, Bonek menolak Persebaya versi PSSI yang belakangan berubah nama berturut-turut menjadi Surabaya United dan Persebaya United bertanding dalam Piala Presiden di Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada 20 September 2015. Penolakan ini berlanjut kendati Persebaya versi PSSI beberapa kali berubah nama, termasuk berubah nama menjadi Bonek FC.
Saat Bonek melawan di jalanan, PT Persebaya Indonesia memindahkan arena pertandingan dari lapangan hijau ke ruang pengadilan. Ini bukan lagi urusan skor, tapi eksistensi klub. Namun majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya, menyatakan tak bewenang mengadili gugatan yang diajukan PT Persebaya Indonesia terhadap status PT Mitra Muda Inti dalam mengelola Persebaya, 3 November 2015.
Tahun 2016-2017: Pengakuan Eksistensi
Pertarungan di pengadilan belum berakhir. Kali ini pada 30 Juni 2016, majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya menolak seluruh gugatan hak merek dan logo Persebaya Surabaya yang diajukan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) terhadap PT Persebaya Indonesia.
Mengutip dari Tempo.co, Persebaya 1927 merupakan pemilik pertama yang memakai logo dan merek pada 2009. Sementara PT Mitra Muda Inti Berlian baru mengganti anggaran dasar dan anggaran rumah tangga pada 2011. Kemudian Persebaya 1927 mendaftarkan merek dan logo itu pada 2013, adapun PT Mitra Muda Inti Berlian baru mendaftar pada 2015.
Namun perjalanan Persebaya di bawah naungan PT Persebaya Indonesia untuk kembali diakui PSSI masih panjang. Ribuan Bonek mengalir ke Jakarta untuk menekan Kongres PSSI yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, pada 10 November 2016 agar segera mengakui Persebaya. Namun kongres batal mengesahkan status klub tersebut.
Status Persebaya kembali diakui pada 8 Januari 2017 dalam Kongres PSSI di Bandung. Dengan demikian Persebaya berhak mengikuti kompetisi Liga 2 Musim 2017. Posisi Arema Indonesia, Persibo Bojonegoro, Persema Malang, Persewangi Banyuwangi, Persipasi Kota Bekasi, dan Lampung FC, juga direstorasi dan bermain di Liga 3. [wir]

as a preferred source on Google




