Surabaya (beritajatim.com) – Kementerian Agama (Kemenag) tengah menyiapkan rancangan penyelenggaraan haji untuk tahun depan. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama, Hilman Latief.
Dia mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan banyak penelitian teknis untuk merancang ulang skenario penyelenggaraan haji di tahun-tahun mendatang agar menjadi lebih baik.
“Alhamdulillah, saat ini kita sudah di tahap akhir untuk pengiriman jemaah haji melalui Bandara Jeddah. Kami mempelajari banyak hal terkait skenario untuk penataan dan perbaikan penyelenggaraan haji tahun-tahun berikutnya,” ujar Hilman yang dikutip dari laman Kemenag.
Hilman mengungkapkan bahwa ada beberapa aspek teknis penyelenggaraan haji yang akan ditinjau dan dirancang ulang. Pertama, terkait dengan keberangkatan dan kepulangan jemaah. Menurutnya, hal ini berkaitan erat dengan pengaturan jadwal penerbangan pesawat.
“Soal kepulangan dan keberangkatan, saat ini tim kami sedang mereka-reka jadwal pesawat dan ritmenya, mau bagaimana? landai di awal, tinggi di tengah, landai di belakang, rata, atau kah naik turun itu ritmenya? sedang kita pelajari,” terangnya.
BACA JUGA: 4 Jemaah Haji Kabupaten Kediri Masuk RS, dari Diabet Hingga Stroke
Kedua, terkait durasi tinggal jemaah di Makkah dan Madinah. Hilman menyebut bahwa pihaknya telah mendapat tugas khusus dari Menteri Agama (Menag), Yaqut Chalil Qoumas, untuk melakukan kajian ulang. Menurutnya, Menag berharap masa tinggal jemaah di Saudi Arabia bisa dipersingkat, tetapi tentu saja tetap mematuhi regulasi yang berlaku di Saudi.
“Sebagaimana amanah dari bapak Menag, kami Ditjen PHU, diminta mendesain ulang tentang lama masa tinggal jemaah di Madinah dan di Makkah. Syukur-syukur bisa diperpendek. Tapi semua itu tergantung dengan regulasi yang ada di Saudi Arabia,” tutur Hilman.
Ketiga, pelayanan jemaah selama masa puncak haji atau Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) merupakan salah satu fokus utama yang perlu dirancang ulang agar menjadi lebih baik. Untuk mencapai hal tersebut, pihaknya akan membentuk tim khusus dan terus berkomunikasi dengan pemerintah Arab Saudi.
“Ketiga, yang paling penting, yaitu menangani selama prosesi Armina atau Masyair. Itu juga sedang kita desain. Dan ini adalah special force yang akan ditangani tim khusus. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik,” ungkapnya.
Hilman juga menambahkan bahwa pihaknya juga perlu berkomunikasi terkait desain tersebut dengan pemerintah Saudi Arabia.
BACA JUGA: 5 Jemaah Haji Asal Tuban Dikabarkan Meninggal Dunia, Total Sudah 12 Orang
“Karena apa pun yang kita lakukan nanti terkait dengan regulasi yang dikeluarkan pemerintah Arab Saudi,” tambahnya.
Ketika ditanya tentang hasil investigasi bersama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Arab Saudi mengenai kinerja Mashariq yang tidak optimal dalam memberikan layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina), Hilman mengatakan bahwa saat ini laporan yang diterima mencatatkan keterlambatan penjemputan di Muzdalifah selama 3 jam. Namun, hasil investigasi secara keseluruhan masih menunggu laporan resmi.
“Untuk yang lain, masih dikaji oleh pemerintah Saudi, karena ada banyak faktor, bagaimana ketidakoptimalan itu terjadi, dan kita masih menunggu secara resmi,” pungkasnya.
Sebagai informasi, tahap pemulangan jemaah haji gelombang pertama dari Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah telah selesai pada tanggal 19 Juli 2023.
Seiring dengan itu, tahap pemulangan jemaah haji gelombang kedua melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah segera dimulai. (nap)






