Malang(beritajatim.com) – Ada cerita lain dari kasus pernikahan siri sesama jenis antara wanita dengan wanita di Kota Malang.
Terlapor yang akrab disapa Erfastino Reynaldi membantah bahwa pelapor Intan Anggraeni (28 tahun) warga asal Blimbing, Kota Malang tidak mengetahui jika dirinya wanita.
“Ya kecewa pasti, kesel iya. Apalagi beritanya enggak sesuai realita ya, nggak sesuai kenyataan. Padahal dia dari awal audah tahu identitasku apa, keluarganya pun juga tahu identitasku dan segala macam. Bahkan dia pun sering main ke rumah,” kata wanita yang akrab disapa Rey itu, Kamis, (9/4/2026) kemarin.
Rey membantah jika Intan tidak mengetahui identitas aslinya. Bahkan Rey mengklaim banyak orang yang sudah mengetahui dirinya wanita termasuk Intan yang menyadarinya sejak awal perkenalan. Saat itu mereka bertemu di sebuah tempat hiburan malam.
“Saya berkenalan dengannya di tempat hiburan malam di Kota Batu,” ujar Rey.
Terkait ajakan pernikahan siri Rey menuturkan bahwa pertama kali yang mengajak pertama kali adalah Intan. Alasannya karena nyaman. Disisi lain, Intan mengaku sering mendapat perlakuan kasar dari mantan-mantanya. Sehingga Intan mengajak Rey untuk menikah.
“Dia (yang mengajak nikah). Karena sebelum-sebelumnya dia selalu dapat perlakuan kasar dari mantan-mantannya, terus cuma dimanfaatin. Terus habis itu dapat yang seperti ini, kayak segala macam aku turuti. Akhirnya ya terjadilah seperti itu,” kata Rey.
Terkait pernikahan yang terjadi. Rey mengklaim sebelumnya sempat meminta untuk tidak melanjutkan hubungan ini. Namun, dia sempat mendapat ancaman bahwa orangtua Intan akan bunuh diri bahkan hingga pingsan jika Rey dan Intan bubar hubungan.
“Tapi sebelum adanya (pernikahan) seperti itu, aku sudah ajak udahan. Tapi dari pihak mamanya sama dia mau ngancam bunuh diri. Sampai mamanya kan pingsan. Akhirnya budenya datang, terus yang ngeredain gitu loh. Ngeredam biar pikirin dulu lah baik-baik, jangan tergesa-gesa,” kata Rey. (luc/ted)





