Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan kota pahlawan tak masuk prioritas pengembangan metode nyamuk Wolbachia.
Hal ini lantaran kasus DBD di Surabaya tidak tinggi dan cenderung mengalami penurunan kasus pada periode yang sama dari tahun sebelumnya.
“Kota Surabaya bukan merupakan wilayah intervensi untuk pengembangan dari metode penyebaran nyamuk dengan Wolbachia ini,” ujar Nanik, Selasa (12/12/2023).
Nanik menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan periode bulan November 2023 dan November 2023 terjadi penurunan angka kasus sebanyak 6 persen. Berdasarkan data kasus yang ada mayoritas kasus DBD masih dialami anak-anak sekolah dengan rentang usia 5 sampai 14 tahun.
“Tren kasus DBD cenderung menurun apabila dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya,” papar Nanik.
Oleh karena itu, agar tak ada kenaikan kasus DBD di Surabaya ketika musim hujan berlangsung. Pihaknya melakukan upaya pencegahan dan pengendalian DBD terus secara berkesinambungan.
Nanik menghimbau, masyarakat untuk secara berkala melakukan 3M seperti menguras dan menyikat bersih bak mandi, menutup rapat tempat penampungan air, dan juga mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air.
Baca Juga: Wali Kota Surabaya Teken SK, Staf Ahli Tak Lagi Buangan
Pihaknya juga membuat Edaran Kewaspadaan Demam Berdarah Dengue di awal musim hujan, karena berisiko terjadi peningkatan populasi nyamuk.
Sebagai informasi, untuk langkah antisipasi dan menekan angka kasus Demam Berdarah Denque (DBD) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sejak tahun 2022 mengembangkan metode nyamuk Wolbachia, pilot project pertamannya dikerjakan di Kota Semarang.
Nyamuk Wolbachia sesungguhnya adalah nyamuk Aedes aegypti pembawa virus demam berdarah dengue yang didalamnya dimasukan bakteri Wolbachia.
Bakteri tersebut akan melemahkan virus dengue, penyebab DBD yang ada di nyamuk Aedes aegypti dan menurunkan infektivitasnya. Dengan cara ini, kasus demam berdarah diharapkan akan menurun.[asg/ted]






