Mojokerto (beritajatim.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Sigiran, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto belum berhasil dipadamkan. Kebakaran yang terjadi sejak, Selasa (13/10/2026) tersebut masih dalam pemantauan petugas karena titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau dengan medan terjal.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Abdul Khakim menjelaskan, bahwa kebakaran tersebut terjadi di kawasan Gunung Sigiran, RKW 06, yang masuk wilayah Tahura Raden Soerjo. Berdasarkan informasi yang diterima, api pertama kali muncul di kawasan Andong Bang sekitar pukul 18.00 WIB.
“Api mulai terlihat sejak Selasa kemarin sekira pukul 18.00 WIB. Api kemudian membesar sekitar pukul 19.00 WIB dan merambat ke kawasan Gunung Sigiran. Vegetasi yang terbakar berupa ilalang dan semak belukar. Hingga kini, luas area yang terdampak masih belum diketahui secara pasti,” ungkapnya, Kamis (15/10/2026).
Masih kata Khakim, lokasi titik api sulit dijangkau dan kondisi medannya sangat curam sehingga pemadaman secara manual belum bisa dilakukan. Tim BPBD Kabupaten Mojokerto telah menuju pos pendakian Bukit Cendono untuk berkoordinasi dengan petugas terkait. Sementara itu, tim Tahura Raden Soerjo melakukan pemantauan dari kawasan Puncak Cendono.
“Perkembangan terakhir menunjukkan titik api telah mencapai kawasan di atas Surga Cendono. Untuk sementara, pos pendakian Bukit Cendono ditutup demi mendukung penanganan dan keselamatan pengunjung. Kami juga melakukan pemantauan serta penyaluran logistik untuk mendukung petugas yang berada di lapangan,” katanya.
Khakim menjelaskan, kebakaran di kawasan Gondang tersebut berbeda dengan kemunculan titik panas yang terpantau melalui aplikasi pemantauan karhutla. Salah satunya berada di Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis. Berdasarkan hasil identifikasi informasi pantauan pada, Kamis (15/10/2026) pukul 15.13 WIB.
“Berdasarkan pantauan Aplikasi Sipongi, yang terdeteksi di Jolotundo merupakan lahan persawahan milik warga yakni sisa daun tebu kering setelah panen. Pembakaran sisa tanaman tersebut membuat area terlihat dalam pantauan satelit, tetapi bukan merupakan kawasan hutan Perhutani maupun Tahura,” jelasnya.
Khakim juga menyebut, tidak ada laporan kebakaran di lokasi tersebut diduga karena berkaitan dengan aktivitas pembakaran sisa panen. Sementara itu, kebakaran di kawasan Pacet yang sebelumnya terjadi dilaporkan telah padam. Adapun karhutla di Gondang masih menjadi perhatian karena titik api berada di kawasan dengan akses yang terbatas.
“Kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, terutama ketika kondisi vegetasi mengering. Sisa tanaman dan rumput kering berpotensi memicu api meluas apabila pembakaran tidak terkendali. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga awal Desember, berdasarkan rilis BMKG Juanda,” tegasnya. [tin/ian]






