Blitar (beritajatim.com) – Kebakaran yang terjadi di wisata Kampung Coklat Kabupaten Blitar membuat kegiatan produksi kakao terganggu. Hal itu diungkapkan oleh Pemilik wisata Kampung Coklat Blitar, Kholid Mustofa.
Menurutnya kebakaran yang terjadi ini membuat kegiatan produksi biji kakao terganggu hingga 3 hari kedepan. Padahal biji kakao hasil Kampung Coklat Kabupaten Blitar juga diekspor ke luar negeri.
Kampung Coklat Blitar sendiri telah mengekspor biji kakao ke sejumlah negara seperti Malaysia dan Singapura sejak tahun 2007 lalu. Namun dengan adanya kebakaran tersebut, kegiatan ekspor biji kakao juga terganggu.
“Tentu cuma kami cuma butuh waktu sekitar 2 hingga 3 hari untuk produksi untuk proses perbaikan insyaallah sudah beres semua,” kata Kholid Mustofa, Pemilik wisata Kampung Coklat Kabupaten Blitar, Rabu (26/04/23).
Meski demikian pihak pengelola tempat wisata Kampung Coklat Blitar mengaku masih memiliki stok kakao yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Kampung Coklat pun menjamin bahwa stok coklat dan kakao yang dijual aman dan mencukupi kebutuhan pasar meski tempat produksi serta area cooking class terbakar.
Kegiatan ekspor yang dilakukan oleh PT Kampung Coklat sendiri memang mengandalkan pasokan biji kakao dari 16.000 petani mitra di Kabupaten Blitar, Trenggalek, Madiun, Malang, Mojokerto, Banyuwangi, semuanya di Provinsi Jawa Timur.
PT Kampung Coklat Blitar tetap menerima pasokan biji coklat petani walaupun tidak sesuai dengan kriteria, kadar air maksimal 8%. Ia mencontohkan, biji kakao berkadar air 10%, sehingga ada kelebihan 2%, maka ada potongan 10% dari harga ideal Rp27.000 per kg menjadi Rp25.000 per kg.
Akibat kebakaran yang terjadi pada Rabu (26/04/23) Dini hari tadi membuat kegiatan ekspor biji kakao Kampung Coklat tersendat. Meski demikian dalam waktu 3 hari kedepan kegiatan produksi dan dan ekspor biji kakao akan kembali normal.
“Insya Allah segera normal karena yang terbakar ini kan cuma 5 persen dari luas wisata Kampung Coklat,” imbuhnya.
Wisata Kampung Coklat yang berada di Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar terbakar hebat, Rabu (26/04/23) dini hari. Luas wahana Kampung Coklat yang terbakar ini mencapai 25 meter persegi.
Api pertama kali muncul dari bagian cooking class yang berada di sebelah pintu gerbang satu. Diduga api berasal dari Magic Com yang lupa dicabut.
https://beritajatim.com/peristiwa/wisata-kampung-coklat-blitar-tetap-buka-meski-terbakar/
Hal itu dikuatkan dengan keterangan saksi yang melihat api pertama kali muncul dari bawah meja di ruangan cooking class. Selama ini Magicom yang digunakan untuk melelehkan coklat memang ditaruh di bawah meja.
Diduga para karyawan lupa untuk mencabut Magic Com yang sejak pagi digunakan. Sehingga Magicom tersebut mengalami korsleting, hingga membakar seluruh ruangan cooking class.
“Api pertama kali muncul di ruangan cooking clas diduga berasal dari Magic Com yang lupa dicabut,” kata Kholid Mustofa, Pemilik Kampung Coklat, Rabu (26/04/23).
Area cooking class Kampung Coklat Blitar yang terbakar ini sekitar 10 meter persegi. Kemudian api merembet dan membakar lokasi sekitar dengan luasan 25 meter persegi.
Luas wahana yang terbakar ini diperkirakan mencapai 5 persen dari area wisata Kampung Coklat. Total kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran ini pun mencapai Rp. 500 juta rupiah.
“Yang terbakar hanya bagian cooking class dengan luas sekitar 10 meter persegi kegiatan merembet dan meluas ke 25 meter persegi,” imbuhnya
Peristiwa ini terjadi pada Rabu (26/04/23) sekitar pukul 01.00 WIB. Menurut saksi mata api pertama kali muncul dari cooking class. Api kemudian meluas dan membakar seluruh ruangan cooking class.
Meski mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah, beruntung dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa.
“Alhamdulillah kami masih disisakan,” pungkasnya sembari tertawa. (owi/ted)






