Blitar (beritajatim.com) – Tertangkapnya Samanhudi Anwar oleh tim Jatanras Polda Jawa Timur terkait kasus perampokan rumah dinas Wali Kota Blitar Santoso, membuktikan adanya perseteruan di antara keduanya. Padahal Samanhudi dan Santoso sebelumnya merupakan pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Blitar periode tahun 2016 hingga 2019.
Keduanya berpisah setelah Samanhudi terjerat kasus korupsi dan ditahan KPK. Setelah itu, Santoso diangkat sebagai Plt Wali Kota Blitar hingga ditetapkan sebagai Wali Kota Blitar definitif.
Pada Pilwali 2019, Santoso mencalonkan diri sebagai Wali Kota Blitar dari partai PDI Perjuangan. Seperti tidak mau kalah, Samanhudi yang saat itu masih mendekam di penjara merestui sang anak, Henry Pradipta Anwar, untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota Blitar, juga dari PDIP.
Keduanya sama-sama mengambil formulir di DPC PDIP Kota Blitar. Proses seleksi pun berjalan. Hasilnya, PDIP memilih Santoso untuk maju di Kontestasi Pilwali Kota Blitar.
Mengusung semangat meneruskan kerja keras yang ayah Samanhudi, Henry memutuskan untuk maju dari partai lain. Henry pun mendapatkan rekomendasi dari PKB, Golkar, serta PKS.
Santoso dan Henry bersaing dalam Pilwali 2019. Akhirnya, Santoso keluar sebagai juaranya, terpilih sebagai Wali Kota Blitar.
Henry Pradipta Anwar yang kalah, sempat tidak terima dan mengajukan banding. Namun putusan tetap menetapkan Santoso sebagai Wali Kota Blitar terpilih hingga saat ini.
Lantas apakah kekalahan anak Samanhudi Anwar itu yang menjadi pemicu terjadinya perampokan Rumah Dinas Wali Kota Blitar. Samanhudi Anwar yang bebas 3 bulan lalu pernah sesumbar akan balas dendam terhadap oknum politik di Kota Blitar.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Blitar Santoso mengaku tidak mau berpikiran negatif terhadap Samanhudi Anwar. Menurutnya pemantik dari Samanhudi Anwar ikut terlibat dalam perampokan rumah dinasnya bukanlah kekalahan politik.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Samanhudi”]
Menurut Santoso kekalahan di Pilwali 2019 merupakan hal yang wajar. walikota Blitar tersebut berpendapat bahwa kalah menang di kontestasi politik merupakan hal yang lumrah Dan harusnya bisa diterima oleh semua pihak yang ikut terlibat.
“Oh tidak saya tidak pernah berpikiran seperti itu, dalam sebuah kompetisi kalah menang adalah sebuah hal yang wajar, kalau toh saya kalah Saya akan terima kekalahan tersebut,” kata Wali Kota Blitar Santoso, Sabtu (28/1/2023).
Santoso sendiri sempat digadang-gadang akan menjadi wakil dari Henry untuk maju dari partai PDIP di Pilwali Kota Blitar. Namun hasilnya justru Santoso yang terpilih sebagai calon walikota Blitar yang diusung oleh partai PDIP.
Apakah hal itu menjadi pemantik kemarahan dari Samanhudi Anwar hingga dirinya nekat menjadi otak dari perampokan rumah dinas walikota Blitar yang terjadi pada bulan Desember 2022 lalu. Sekali lagi Santoso enggan berkomentar dan membantah bahwa kekalahan politik bukanlah pemantik dari kasus perampokan rumah dinasnya.
“Ya itu proses pada waktu itu namun apa yang diputuskan di Pilkada yaitu hasilnya,” kata Santoso.
Santoso sendiri mengaku tetap menghormati dan menghargai Samanhudi Anwar sebagai atasan atau pimpinan meskipun atas segala hal yang terjadi pada saat ini. Wali Kota Blitar tersebut meminta semua pihak untuk menahan diri dan menjaga kondusivitas situasi jelang Pemilu dan pileg.
Santoso berharap semua pihak bisa menghormati proses hukum yang sedang berjalan untuk mengungkap apa yang menjadi motif sebenarnya dari perampokan rumah dinas Wali Kota Blitar yang melibatkan Samanhudi Anwar. [owi/beq]






