Jember (beritajatim.com) – Sosok Ganjar Pranowo dalam dunia politik Indonesia cukup menginspirasi. Karakternya yang tegas dan terbuka serta bersih mampu membuat orang terkagum.
Seperti dirasakan Henang Tatas Takariyanto, warga Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kekagumannya kepada Gubernur Jawa Tengah itu mendorong dia memberikan hadiah istimewa berupa lukisan bertema ‘Kun Fayakun’ buatannya sendiri.
“Saya mengerjakannya selama dua hari, sejak 1 Juni kemarin pakai cat minyak di atas kanvas ukuran 50×50 centimeter,” kata Henang yang berprofesi sebagai pelukis itu, ditulis Kamis (9/6/2022).
Keinginan Henang mempersembahkan lukisan tersebut muncul setelah mengikuti pemberitaan soal Ganjar di televisi. “Pak Jokowi sudah memimpin dua periode. Tidak bisa jadi presiden lagi. Saya berpikir Pak Ganjar yang cocok menggantikannya,” katanya.
Dibesarkan dalam keluarga berlatarbelakang pendukung Partai Nasional Indonesia (PNI), Henang merasa punya kedekatan dengan Ganjar yang juga kader PDI Perjuangan. PDIP dianggap sebagai penerus PNI.
“Nama saya akronim dari Marhen Menang dan Takariyanto berasal dari Tahun Berdikari yang dicetuskan Bung Karno,” katanya.
Menurut Henang, Ganjar lebih pantas dibandingkan kandidat presiden lainnya yang muncul saat ini. “Selayaknya orang Jawa, dia lebih luwes dan memiliki pengalaman sebagai birokrat,” katanya.
Niat Henang membuat lukisan semakin tebal, setelah melihat belum pastinya Ganjar untuk diberangkatkan sebagai calon presiden oleh PDI Perjuangan. Melalui lukisan itu, ia ingin memberikan semangat untuk Ganjar.
“Jika Pak Ganjar dikehendaki Allah, apapun yang terjadi, beliau pasti akan jadi presiden,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ganjar-pranowo”]
Itulah kenapa kemudian lukisan itu diberi judul berbahasa Arab Kun Fayakun. Kun fayakun ini ada dalam Alquran Surat Yasin ayat 82, yang berbunyi Innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn, yang artinya: sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.
Malam hari pertama, Henang melukis sosok Ganjar lebih dulu. Dalam lukisan itu, Ganjar mengenakan pakaian batik khas Jawa Tengah. “Batik ini sudah diterima sebagai pakaian nasional,” kata Henang.
Malam hari kedua, Henang melukis pemandangan latar di belakang Ganjar, yakni laut, langit merah bagaikan fajar menyingsing, tulisan kun fayakun, dan kalimat syahadat. “Laut menunjukkan wawasan Pak Ganjar yang seluas samudra. Warna merah identik dengan warna PDI Perjuangan,” katanya.
Kalimat syahadat ‘Lailahaillallah Muhammadarrasulullah’ yang artinya ‘Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah’ dilulis diukir di awan putih. “Saya ingin menunjukkan bahwa kalimat itu bukan hanya milik sekelompok orang, tapi milik umat Islam,” kata Henang.
Henang menyerahkan lukisan itu kepada Ketua Ganjarist Jawa Timur Agus Hadi Santoso di Jember. Ia berharap Agus mau menyampaukan lukisan itu kepada Ganjar. “Saya kan tidak punya link buat ketemu Pak Ganjar langsung,” katanya.
Agus mengatakan, Henang adalah salah satu relawan Ganjarist. “Pak Henang ini merasa prihatin melihat perlakuan elite PDI Perjuangan terhadap Pak Ganjar,” katanya, menyinggung soal kecaman politisi senior PDIP Trimedya Panjaitan terhadap Ganjar. [wir/beq]






