Jember (beritajatim.com) – Gara-gara pernikahan tak direstui, pasangan suami istri warga di Kabupaten Jember, Jawa Timur, diam-diam meletakkan anak mereka di rumah orangtua sendiri. Tak mengira jika itu cucunya sendiri, Wasilah nyaris menyerahkannya ke Dinas Sosial Jawa Timur.
Kisah ini berawal sepekan silam, tepatnya pada Rabu (7/12/2022) pagi. Wasilah baru saja salat subuh. Sekitar pukul lima pagi, perempuan berusia 41 tahun itu membuka pintu depan rumahnya di Desa Tisnogambar, Kecamatan Bangsalsari, Jember, tanpa menyadari ada kejutan menanti.
Saat melihat ker arah kursi, Wasilah kaget setengah mati. Ada seorang bayi laki-laki terbaring di atas kursid epan rumahnya dilengkapi seperangkat perlengkapan untuk mengurusnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah berteriak memanggil suaminya Sodik. Ia tak berani mengecek kondisi si bayi.
Teriakan itu memancing Sodik dan beberapa tetangga datang. Pelan-pelan Sodik mendekati si bayi untuk mengecek. Alhamdulillah, ternyata masih hidup. Namun bayi siapakah itu? Pertanyaan itu jadi bahan pembicaraan Sodik dan Wasilah serta warga setempat.
Mereka lantas menghubungi aparat kepolisian dan pemerintah desa. Polisi memutuskan sang bayi dibawa ke Puskesmas Bangsalsari untuk menjalani pengecekan kesehatan. Polisi pun menyelidiki siapa orangtua si bayi.
[berita-terkait number=”3″ tag=”bayi-dibuang”]
Akhirnya polisi berhasil mengungkap siapa orangtua si bayi. “Ternyata orangtua bayi itu adalah anak lelaki pemilik rumah (Sodik dan Wasilah, red),” kata Kepala Unit Reserse dan Kriminalitas Kepolisian Sektor Bangsalsari Ajun Inspektur Satu Dedy Ilyas, Rabu (14/12/2022).
Bayi tersebut ternyata adalah hasil pernikahan siri putra Wasilah berinisial H dengan perempuan berinisial S. H hendak bekerja ke Kabupaten Situbondo dan ingin menitipkan sang bayi kepada Wasilah. “Tapi dia tidak berani secara langsung. Akhirnya pakai cara kemarin itu,” kata Dedy.
Persoalan pun diselesaikan dengan damai. “Bayi itu akhirnya dikembalikan ke orangtuanya. Semula oleh Dinas Sosial mau dikirim ke panti asuhan pemerintah provinsi di Sidoarjo. Tapi karena orangtuanya sudah ketemu ya tidak jadi. Mereka tidak ada niat menelantarkan,” kata Dedy.
Dedy berpesan kepada semua keluarga muda agar benar-benar berpikir matang dalam bertindak. “Mungkin untuk pasangan muda yang belum disetujui orangtua, tolong dimusyawarahkan dengan keluarga. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi. Pasti ada alasan tertentu dari orangtua yang tidak dimengerti pasangan muda,” katanya. [wir/suf]






