Madinah (beritajatim.com) – Mendekati kedatangan jemaah haji, kualitas asupan nutrisi menjadi prioritas utama. Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung yang dipercaya Kementrian Haji dan Umrah (Kemenhaj) sebagai tim pengawas katering, melakukan pengawalan ketat atau berlapis terhadap seluruh proses penyediaan makanan di dapur-dapur penyedia jasa katering di Madinah.
Nova MH, perwakilan tim pengawas dari Poltekpar NHI Bandung, menegaskan standar operasional prosedur (SOP) diterapkan tanpa kompromi. Pengawasan dilakukan secara komprehensif dalam tiga tahap utama yakni pra produksi, selama produksi, hingga proses distribusi ke hotel tempat jemaah menginap.
“Pengecekan rutin kami lakukan tiga kali dalam sehari mengikuti jadwal makan jemaah,” tandasnya.
Nova menjelaskan bahwa tim sudah mulai bergerak saat kota Madinah masih terlelap. Misal untuk makan pagi pengecekan dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 04.00 dini hari saat proses memasak dimulai. Begitu pula untuk makan siang maka pengawasan sudah dimulai intensif sejak pukul 06.00. “Selain pengawasan itu, kami juga melakukan pemeriksaan berkala pada penyimpanan bahan segar dan kering. Ini untuk memastikan tidak ada bahan yang basi atau rusak sebelum diolah,” imbuhnya.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar di cuaca ekstrem Arab Saudi adalah menjaga agar makanan tidak cepat basi. Tim pengawas menekankan pentingnya suhu makanan saat keluar dari dapur. “Makanan yang baik itu berada di suhu 60-70 derajat Celcius saat mulai didistribusikan ke hotel. Ini sangat krusial untuk menjaga suhu ruang agar makanan tetap higienis, tidak mudah basi, dan tiba di tangan jemaah dalam kondisi prima,” ujar Nova.
Kendati demikian, jemaah yang telah mendapatkan makanan juga diminta untuk segera menyantapnya tanpa harus menunggu waktu lama. Seringkali jemaah menunda makan hingga beberapa jam karena tengah menjalankan ibadah di Masjid Nabawi, sedangkan makanan masih tertutup rapat sehingga menurunkan kualitas dan mempercepat basi.
Selain keamanan pangan, kadar gizi menjadi perhatian khusus guna menjaga ketahanan fisik jemaah. Kebutuhan protein, karbohidrat, dan serat dipastikan terpenuhi sesuai standar yang ditetapkan. Seperti kebutuhan protein bisa diambilkan dari dagung sapi, ayam, ikan, telur dan tempe. Kemudian karbohidrat dari nasi dengan porsi terukur. Sedangkan vitamin dan serat melalui aneka sayuran dan buah seperti kentang, wortel, apel, pir, pisang dan lainnya. Tidak lupa menu tambahan berupa puding yang diberikan saat makan siang untuk asupan serat.
Mengingat ketersediaan sayuran hijau yang cukup terbatas di Arab Saudi, Nova menyarankan agar penyedia katering menyiasatinya dengan memanfaatkan bahan yang tersedia seperti wortel dan kentang, tanpa mengurangi nilai gizi. Bahkan, menu khas nusantara seperti tempe tetap dihadirkan untuk menjaga selera makan jemaah.
Dengan pengawasan yang berlapis ini, diharapkan seluruh jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan kondisi fisik yang prima berkat asupan makanan yang sehat, bergizi, dan higienis. (ian/aje)






