Mojokerto (beritajatim.com) – Jalur Cangar-Pacet khususnya di Jalur Gotekan, Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto masih menjadi momok pengendara.
Meski sudah ada dua jalur penyelamatan, toh masih banyak terjadi kecelakaan di jalur alternatif Batu-Mojokerto ini.
Ada dua jalur penyelamat di Dusun Pacet Selatan, Desa Pacet yang dibangun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur bersama pihak kepolisian pada akhir tahun 2017 lalu. Jalur penyelamat pertama terletak di ujung Tikungan Gotekan dengan jalur sepanjang 11 meter dan lebar 9 meter.
Di bagian ujung jalur penyelamat tersebut, sisi kanan dan kiri dipagari dengan tumpukan karung berisi sekam campur ban bekas. Ini dilakukan untuk meredam benturan saat ada kendaraan rem blong dari arah selatan atau dari arah Batu dengan jalanan menurun.
Sementara landasannya diuruk sekam untuk menghambat laju kendaraan yang mengalami rem blong. Jalur penyelamat kedua yakni 20 meter di atas Tikungan Gotekan yang berada di sisi kiri jalan Cangar-Pacet. Konstruksinya mirip jalur penyelamat pertama.
Hanya saja jalur ini sedikit terhalang tebing di sisi kiri jalan. Jalur penyelamat ini jarang berfungsi karena tak seberapa terlihat pengendara dari selatan. Apalagi saat kondisi kendaraan mengalami rem blong, pengendara pasti akan fokus mengarahkan kendaraan untuk lurus atau ke jalur penyelamat pertama.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Perhubungan (DPRKP2) Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono mengakui jika, jalur penyelamat yang ada sekarang tidak representatif. “Panjang jalan menurun di jalur Cangar-Pacet sekitar 12 km,” ungkapnya, Senin (17/10/2022).
Masih kata Rachmat, kondisi jalan tersebut membuat para pengendara harus menggunakan rem untuk mengurangi kecepatan laju kendaraan. Sehingga sistem rem tidak berfungsi atau rem blong ketika sampai di turunan Sendi-tikungan Gotekan.
“Ada tiga spot, dari pabrik jamur di Sumber Brantas Batu pengendara sudah mulai melakukan pengereman sampai Jembatan Kembar yakni sekitar 4 km, itu spot 1. Dari Jembatan Kembar sampai Sendi itu spot 2. Rem semakin menekan sekitar 5 km. Yang paling parah yakni spot 3, dari Sendi sampai Gotekan,” katanya.
“Terakhir yang paling fatal di spot ketiga dari Sendi sampai Gotekan sekitar 4 km. Karena sebelumnya pengendara sudah mengerem sehingga kemampuan kampas rem sudah berkurang karena panas,” terangnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Jalur Cangar-Pacet merupakan jalan provinsi menghubungkan Cangar di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dengan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Dengan jarak kedua wilayah sekitar 12 km membuat jalur ini ramai dilalui wisatawan setiap akhir pekan dan hari libur nasional.
Selain menjadi jalur alternatif Batu-Mojokerto, di sepanjang jalur tersebut banyak pilihan destinasi wisata di Cangar-Pacet dan sekitarnya. Namun jalur Cangar-Pacet memiliki turunan curam dengan kemiringan jalan menurun mencapai 32 persen atau lebih dari 16 derajat.
[berita-terkait number=”4″ tag=”jalur-cangar-pacet”]
Padahal, kemiringan turunan yang aman maksimal di angka 22 persen. Kondisi ini membuat banyak kendaraan matik khususnya memgalami rem blong karena kendaraan bertransmisi otomatis hanya mengandalkan rem untuk melalui jalur ini.
Satlantas Polres Mojokerto mencatat sudah terjadi 20 kecelakaan sejak awal tahun 2022 sampai bulan Oktober ini. Jumlah korban tewas sebanyak tiga orang, satu luka berat, dan 26 luka ringan.
Terakhir, satu keluarga asal Sidoarjo menabrak jalur penyelamatan pada, Selasa (11/10/2022) sekira pukul 11.00 WIB, sang ibu tewas di lokasi kejadian. Saat itu, Sanuri (47) mengendarai sepeda motor Honda Vario nopol W 3327 WM dari arah Batu ke Mojokerto.
Warga Desa Bareng Krajan, RT 012 RW 004, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo ini membonceng sang istri, Suliah Agustina (33) dan sang anak HYA (7). Di lokasi kejadian mengalami rem blong dan menabrak jalur penyelamatan, sang istri tewas di lokasi kejadian. [tin]







