Surabaya (beritajatim.com) – Peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Dr Ir Amien Widodo menyebut gempa Cianjur akibat lempeng tektonik yang bergerak dan menekan wilayah Indonesia sejak jutaan tahun lalu.
Amien mengatakan, kendati demikian, sumber gempa darat dari sesar aktif ini masih belum diketahui secara pasti. Jika dirunut berdasarkan peta, berdekatan dengan Cianjur terdapat sesar Cimandiri yang membentang mulai dari Teluk Pelabuhan Ratu hingga Cianjur. Sesar ini pernah mengguncang Sukabumi pada tahun 2001 silam.
“Namun, letak sesar yang berada jauh di sebelah utara tempat kejadian dipastikan bukan penyebab dari gempa Cianjur ini,” jelas Amien, Selasa (22/11/2022).
[berita-terkait number=”3″ tag=”gempa-cianjur”]
Diketahui, laporan BNPB per 22 November 2022 pagi, tercatat sebanyak 103 orang meninggal dunia akibat dampak gempa. Sebanyak 377 orang mengalami luka-luka dan ada 7.064 orang mengungsi akibat bencana alam ini. Belum lagi ribuan bangunan juga mengalami kerusakan ringan hingga berat.
Meskipun gempa tersebut tergolong berkekuatan kecil, namun posisi peristiwa gempa yang dangkal menyebabkan kerusakan bangunan yang berada di atasnya. Untungnya, gempa yang terjadi tersebut tidak berpotensi tsunami karena sumber gempa berasal dari daratan.
Amien berharap, pemerintah bisa untuk lebih memetakan sesar yang ada di Indonesia dan memberikan pemetaan bagaimana semestinya jarak dan model rumah dibangun. “Perlu diingat bahwasanya gempa tidak membunuh, tetapi bangunanlah yang menyebabkan korban sehingga pemetaan perlu dilakukan,” tegasnya.
Sementara itu, masyarakat juga diharapkan bisa mengembalikan literasi kebencanaan. Harusnya, kata Amien, masyarakat tak berpikir bahwa bencana merupakan takdir, azab, maupun kutukan. “Penumbuhan pengetahuan akan ancaman di sekitar akan mengurangi risiko bencana,” pungkasnya. [ipl/suf]






