Lamongan (beritajatim.com) – Kabupaten Lamongan melaunching LGC (Lamongan Green and Clean). Kegiatan ini dilakukan untuk mewujudkan lingkungan hidup dan pemukiman di Lamongan yang hijau, bersih, indah dan ceria.
Dalam kegiatan ini juga menghadirkan pemateri bernama Bambang Irianto, seorang penggagas Gintung Go Green (3G) Malang yang tak pernah letih menebarkan semangat untuk melakukan penghijauan terhadap lingkungan dan pemukiman.
Di hadapan jajaran pejabat Pemkab Lamongan dan para kepala desa yang hadir di kegiatan ini, Bambang Irianto menceritakan bagaimana kisahnya menyulap kampung kumuh dan langganan banjir menjadi lingkungan yang hijau nan bersih.
“Inisiatif itu muncul saat saya dipilih menjadi ketua RW (Rukun Warga) 23 di Glintung, kampung yang terletak di Jalan Karya Timur, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang pada akhir Desember 2012 silam,” ujar Bambang, saat menyampaikan materi LGJ di Gedung Sport Center Lamongan (SCL), Senin (5/6/2023).
Kala itu, ungkap Bambang, awalnya satu-satunya prestasi yang dimiliki oleh RW-nya hanyalah juara dalam memandikan jenazah. Selain itu, sebut Bambang, kampungnya memiliki kondisi yang kumuh dengan kriminalitas yang tinggi dan langganan banjir.
“Satu-satunya prestasi RW 23 ketika itu adalah juara lomba memandikan jenazah. Saat saya menjabat sebagai ketua RW tersebut, kas atau dana RW juga kosong alias tidak ada dana sama sekali,” beber pria kelahiran Malang, 5 Mei 1957 itu.
Atas kondisi kampung yang memprihatinkan itu, Bambang akhirnya memutuskan untuk mengajak masyarakat setempat agar bersama-sama mengubah pola fikir dan membangun kampung kelahirannya tersebut menjadi lingkungan yang hijau dan bersih. “Saya kemudian berinisiatif menggerakkan seluruh warga untuk menghijaukan lingkungan sekitar sejak tahun 2012,” ujarnya.
Meski tidak semua warga mau atau tergerak hatinya untuk mengikuti ajakan Bambang dalam mewujudkan Glintung Go Green, namun pihaknya secara konsisten terus mensosialisasikannya. Menurut Bambang, yang bisa mengubah kampung itu adalah warganya sendiri.
“Awalnya hanya sekitar 10 persen saja yang tergerak. Saya terus berupaya menyadarkan warga untuk mengubah mindset dan wajah kampung sekaligus menyusun cita-cita bersama terkait wajah kampung. Sosialisasi dan imbauan terus saya lakukan agar warga mau berinovasi,” ungkapnya.
Ditambahkan Bambang, selain menggugah hati warga, pihaknya juga menyusun sejumlah program pembangunan kampung. Dia juga berupaya memberikan contoh yang bisa dengan mudah dilaksanakan oleh warga guna mewujudkan Glintung Go Green.
“Saya mulai dari apa yang ada dengan tidak ada dana sama sekali, dari barang bekas, kita minta bibit, minta pupuk dari berbagai relasi,” tambahnya.
Upaya yang dilaksanakan demgan konsisten itu pun membuahkan hasil manis, warga bergerak secara swadaya dan bergotong royong. Akhirnya Glintung secara perlahan menjadi kampung yang hijau, bersih dan indah.
Tak cukup itu, kini Kampung Glintung Go Green (3G) yang digagas Bambang itu bahkan menjadi destinasi wisata rujukan. Banyak wisatawan dari berbagai latar belakang, baik dari dalam maupun luar negeri, yang berdatangan ke kampungnya untuk belajar.
“Kami membuat aturan-aturan RW yang berkaitan dengan penghijauan, seperti misalnya setiap pengurusan surat-surat maka warga harus punya tanaman di rumahnya, atau ketika ada pengurusan dokumen kelahiran harus punya tanaman baru di rumahnya,” paparnya.
Lebih lanjut, aneka tanaman hias yang dulunya tidak karu-karuan kini juga diubah menjadi budidaya tanaman. Dari serangkaian proses ini, warga akhirnya mengetahui tentang berbagai macam teknik budidaya, agro inovasi, hidroponik, vertical farming, sky garden dan teknik tanam lainnya.
Bambang juga berkata bahwa dia bersama warga telah membuat sumur resapan dan biopori. Setidaknya ada 7 sumur resapan, 700 biopori standar, 200 biopori jumbo dan 200 superjumbo yang dilakukan secara swadaya dengan memanfaatkan kaleng bekas cat berukuran 5 kg dan kg.
“Program ini saya namakan Gerakan Menabung Air (Gemar). Tiga tahun berjalan sumur-sumur warga naik 5 meter, siang hari air bawah tanah menguap, kelembaban udara di lorong kampung semakin baik untuk kesehatan, suhu udara di kampong turun, global warming turun dan pada Oktober 2016 terpilih menjadi salah satu inovasi tingkat dunia di ajang Guangzhou International World Open Inovation 2017,” jelasnya.
Berkat keberhasilan yang dilakukan Bambang, kini ia kerap diundang di banyak tempat di Indonesia untuk menularkan ilmunya. Bambang menyebut, ada berbagai macam strategi dalam membangun kampung tematik.
Yang terpenting, kata Bambang, langkah pertamanya adalah dengan mengidentifikasi potensi dan masalah kampung itu sendiri, agar dapat melihat bagaimana kampung akan dibentuk. “Strategi yang kita ajarkan adalah strategi dan manajemen membangun kampung berbasis potensi yang dimiliki, disinergikan dengan potensi-potensi yang lain di mana inilah yang saya namakan kampung tematik Indonesia,” tutupnya.
BACA JUGA:
Jemaah Haji Lamongan Meninggal Usai Sholat di Masjid Nabawi
Adapun berbagai penghargaan atau prestasi yang sudah dikantongi oleh Bambang Irianto sejak 2012 itu di antaranya penghargaan Kelurahan Bersih dan Lestari tingkat Pratama dari Provinsi Jawa Timur tahun 2016, Piagam Penghargaan sebagai Pegiat lingkungan Kota Malang tahun 2014 dari Walikota Malang.
Juara 3 Lomba Kampung Bersinar tahun 2015, 15 besar dari 301 kota di dunia dalam Guangzhou International Award for Urban Innovation 2016, sebagai ikon prestasi Indonesia tahun 2017 dari Presiden RI melalui Unit Kerja Presiden di bidang Pembinaan Ideologi Pancasila.
Kemudian Penghargaan sebagai Pelestari Lingkungan Tingkat I Jawa Timur Kategori Pembina Lingkungan tahun 2017 dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Juara 1 Lomba antar juara kampung bersinar tahun 2018 dari Wali Kota Malang dan Penerima Penghargaan Kalpataru kategori Pembina Lingkungan tahun 2018 dari Presiden Republik Indonesia.
Lalu Penghargaan sebagai Kampung Proklim Kategori Utama Tingkat Nasional Tahun 2018 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga Penghargaan di Taman Wisata Batu Putih, Tangkoko, Bitung, Sulawesi Tengah.[riq/kun]






