Banyuwangi (beritajatim.com) – Pengelolaan sampah di Kabupaten Banyuwangi jauh semakin lebih baik. Hal ini terbukti, saat pemerintah pusat yang menjadikan Banyuwangi jadi contoh dekarnonasi nasional.
Pemda setempat bekerjasama dengan berbagai pihak untuk penanganan dan pengelolaan sampah. Prosesnya dimulai dari hulu hingga ke hilir.
Di sini juga memiliki sejumlah program persampahan mulai pembangunan TPS3R hingga berbagai inovasi penanganan sampah yang melibatkan pihak swasta maupun masyarakat.
Selain itu Pemkab juga getol kampanye perubahan perilaku kepada masyarakat dan membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Persampahan.
“Kami juga aktif berkolaborasi dengan beberapa pihak untuk menangani sampah, salah satunya Banyuwangi mendapat dukungan dari pemerintah Norwegia untuk pembangunan TPS 3R Balak,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Baca Juga: Serius Kelola Sampah, Banyuwangi Jadi Contoh Dekarbonisasi Nasional
Bahkan, saat ini Banyuwangi telah membangun dan mengoperasikan 19 TPS 3R disejumlah kecamatan. Di antaranya TPS3R Balak, memiliki kapasitas pengolahan mencapai 84 ton perhari dengan sasaran 55.491 rumah tangga. Sementara TPS3R Muncar setiap bulannya, rerata sampah yang dikelola mencapai 270 ton yang berasal dari 7500 rumah tangga di empat desa di Kecamatan Muncar.
Selain itu, Banyuwangi juga bekerjasama dengan NGO Sungai Watch yang berfokus pada penanganan sampah di sungai dengan memasang jaring penghalang. Saat ini sebanyak 30 jaring penghalang telah terpasang di sejumlah titik sungai di Banyuwangi.
Pemkab setempat juga telah menjadikan penanganan sampah sebagai prioritas program pembangunan. Oleh karena itu, penanganan sampah di Banyuwangi cukup komprehensif.
“Kami membuat regulasi persampahan, mulai peraturan daerah, peraturan bupati, hingga Surat Edaran tentang pengelolaan dan pengurangan penggunaan plastik. Kami juga menetapkan pengelolaan persampahan sebagai salah satu indikator penilaian dalam rapor desa, yang akan menentukan alokasi anggaran tiap desa,” terang Ipuk. (rin/ted)






