Jember (beritajatim.com) – Inflasi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, bulanan (month to month) pada Maret 2022 menembus 1,07 persen, tertinggi sejak 2020. Harga sejumlah komoditas pokok melambung, antara lain tempe, minyak goreng, telur ayam ras, tahu mentah, dan daging.
Menurut data BPS, kelompok makanan, minuman dan rokok mengalami inflasi tertinggi yakni 2,42 persen. Inflasi tertinggi berikutnya adalah kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 2,1 persen, Inflasi terkecil sekitar 0,18 persen ditemui pada kelompok pakaian dan alas kaki.
Sementara itu, penurunan harga atau deflasi terjadi pada komoditas beras, ikan cakalang, cumi-cumi, tomat, salak, daun bawang, kelapa, minuman ringan, ikan teri dan wortel.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arief Joko Sutejo mengatakan, inflasi bisa terjadi karena stok komoditas di pasar terbatas. “Bisa jiuga pengaruh dari luar negeri. Tapi ujung-ujungnya stok. Seperti tempe, kan pengaruh kebutuhan kedelai di China yang membuat penyediaan kedelai kita terkurangi,” katanya, Senin (4/4/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”inflasi-jember”]
Inflasi di Jember tertinggi kedua di Jawa Timur. “Nomor satu Sumenep dengan inflasi 1,09 persen. Terendah Kediri 0,43 persen. Jawa Timur rata-rata 0,71 persen dan nasional 0.66 persen. Jadi inflasi di Jember di atas rata-rata Jawa Timur dan nasional,” kata Arief.
Inflasi tinggi ini berpengaruh terhadap masyarakat yang memiliki tingkat pendapatan tetap atau rendah. Arief mengatakan, komoditas pokok memerlukan intervensi dari pemerintah daerah. “Atau bagaimana caranya, katakanlah komoditas kebutuhan masyarakat harus tersedia. Kalau ada operasi pasar akan lebih baik,” katanya. [wir/ted]






