Jakarta (beritajatim.com) – Ancaman krisis pangan yang melanda Indonesia sepanjang 2023 berhasil ditekan. Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, mengklaim kebijakan cerdas pemerintah telah menyelamatkan 40 persen penduduk dari dampak tiga gelombang besar yang menerjang ketahanan pangan nasional.
Tiga gelombang tersebut meliputi penurunan produksi pangan akibat El Nino, kenaikan biaya produksi pertanian, dan lonjakan harga pangan dunia. Namun, pemerintah sigap mengimplementasikan dua kebijakan yang terbukti efektif.
Kebijakan pertama adalah bantuan pangan berupa beras gratis sebanyak 10 kilogram per bulan, ditujukan kepada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dengan pendapatan terendah.
Program ini memastikan 21,4 juta rumah tangga, atau hampir separuh penduduk Indonesia, memiliki akses pangan stabil di tengah tantangan ekonomi.
Kebikjakan kedua, menstabilkan pasokan dan harga dengan beras SPHP. Melalui Perum Bulog, pemerintah menggelar program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Beras SPHP dijual dengan harga Rp1.000 hingga Rp1.500 lebih murah dari pasar. Program ini tersedia di pasar rakyat, ritel modern, dan agen Bulog di seluruh Indonesia, sehingga menjadi alternatif bagi masyarakat menghadapi harga beras yang bergejolak.
“Kedua kebijakan ini menjangkau sekitar 24 juta rumah tangga, mendekati 100 juta jiwa. Ini bukti pemerintah sigap melindungi hampir separuh penduduk kita dari ancaman krisis pangan,” ujar Bayu dalam diskusi “Indonesia Menuju Kedaulatan Pangan” di Media Center Indonesia Maju, ditulis Jumat (22/21/2023).
Keberhasilan kebijakan ini dipuji sebagai langkah cerdas di tengah situasi global yang penuh tantangan. Bayu membandingkannya dengan situasi di negara lain yang lebih menderita akibat krisis pangan.
“Program-program ini memastikan ketersediaan beras dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Ini langkah cerdas yang membedakan Indonesia dari banyak negara lain saat menghadapi tekanan serupa,” jelas Bayu, mantan Wakil Menteri Pertanian tersebut.
Langkah selanjutnya, pemerintah berfokus pada penguatan produksi pangan dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan ketahanan pangan jangka panjang. Bayu optimistis Indonesia dapat mencapai swasembada pangan di masa depan dengan komitmen dan kerja sama seluruh pihak. [beq]






