Hukum & Kriminal

Ini Cerita 2 Geng di Surabaya Saat Bentrok Live IG

Surabaya (beritajatim.com) – Andreas (20) warga Tambak Sari, Surabaya, menyesal sudah melukai sampai meninggal.

Saat itu dirinya sedang bersama rekan dari kelompok Jawara dan Guk guk. Karena  emosi sejak kejadian lama dan beberspa kali bentrok, Ardreas ikut nimbrung berkumpul, selanjutnya di Jalan Tembaan ketemulah dengan dua kelompok tersebut dan terjadilan bentrok.

“Pas bentrok dia jatuh dan saya hantam. Beberapa kali tapi awalnya gak tahu kalau dia (korban.red) meninggal. Saya tahunya saat diperiksa dan dikabarkan korban meninggal,” katanya saat gelar perkara di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (2/12/2020).

Selain itu, menurutnya aksi bentrok selalu dibarengi dengan live dan perekaman video. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan eksistensi kelompok ini ke kelompok musuh yakni All Star. Aksi bentrok pun dilakukan sudah berkali-lali dan selalu diabadikan dengan live atau video. Dengan begitu kelompok lain bisa melihat eksistensi bntrok dan kemenangan mereka.

“Ya ada yang menang dan kalah. Tergantung pas bentrok jumlahnya banyak apa ndak kelompok kita. Kelompok saya di Tambak Sari ada sekitar 20 anggota,” tandasnya.

Sementara itu menurut Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo menjelaskan bahwa mereka bukanlah gengster. Hanya saja dua kelompok yang terbentuk dan melakukan aksi bentrok. Bahkan, menurutnya sebelum bentrok di Jalan Tembaan sekitar Pasar Turi, polisi sudah mengantisipasi. Diantaranya melakukan patroli dan maping wilayah tersebut dari malam hingga dini hari.

“Tapi ternyata kedua kelompok ini malah bentrok pada subuh hari. Kejadian ini pun sontak langsung membuat petugas terjun ke lokasi. Saat di lokasi petugas mendapati adanya satu kroban jiwa dan barang bukti diantaranya senjata tajam dan 15 sepeda motor,” jelasnya.

Dari pengamanan tersebut petugas juga berhasil mengamankan 15 pelaku. Para pelaku ini lima diantaranya terpaksa harus ditahan. Kelima pelaku dua diantaranya juga merupakan anak-anak. Sedangkan tiga diantaranya merupakan orang dewasa.

Sedangkan pelaku lain yang masih dalam pengejaran, lanjut AKBP Hartoyo, pihaknya meminta agar menyerahkan diri. Bahkan, pihak keluarga yang merasa kehilangan motor bisa mengambil di Polrestabes Surabaya. Sebab ada sekitar 15 sepeda motor yang belum diketahui pemiliknya dan belum mengambil di Mapolrestabes.

“Kami imbau agar pelaku lain menyerahkan diri saja. Sebab ada motor yang belum diambil dan diduga juga ikut bentrok. Bahkan bisa jadi merupakan salah satu pelaku penganiayaan yang berujung kematian,” tandasnya.(man/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar