Bojonegoro (beritajatim.com) – Belakangan harga kedelai impor yang menjadi bahan dasar pembuatan tahu harganya terus naik. Mahalnya harga kedelai impor sejumlah produsen tahu berusaha mencari solusi ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.
Menurut salah seorang produsen tahu asal Kelurahan Ledok Kulon Kabupaten Bojonegoro Pranyoto, harga kedelai impor saat ini per kilogramnya sudah tembus Rp10.500. Mahalnya harga bahan dasar pembuatan tahu itu membuat cost produksi juga bertambah.
“Kita berusaha meminta solusi ke Pemkab agar kedelai impor bisa turun (harga). Tapi belum puas dengan hasil pertemuan dengan pemkab, karena belum ada solusi yang teratasi,” ujarnya, Kamis (17/6/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-bojonegoro”]
Untuk tetap bertahan memproduksi tahu, produsen mengaku lebih memperkecil ukuran tahu yang diproduksi dengan mengurangi takaran. “Misalnya biasanya untuk satu wadah menggunakan kedelai 7 kg, sekarang dikurangi 1 kg,” ungkapnya.
Menurutnya, solusi yang diberikan Pemkab Bojonegoro dalam hal ini Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian menawarkan kedelai lokal sebagai bahan dasar pembuatan tahu.
Kemudian dibuat sistem kemitraan antara produsen tahu dengan petani kedelai. “Selain itu, solusi dari pemerintah daerah akan memberi kompensasi kepada distributor kedelai agar harganya bisa turun sedikit menjadi Rp10 ribu,” jelasnya.
Termasuk lanjut Sunyoto, para produsen tahu ini akan diberikan pelatihan pembuatan, packaging hingga pemasaran tahu agar bisa dijaul ke pasar modern. “Karena untuk informasi harga selama tiga bulan kedepan tidak akan turun,” jelasnya.
Sementara Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro Sukaemi mengatakan solusi yang diberikan tersebut merupakan solusi jangka panjang. Termasuk mengubah bahan dasar kedelai impor menjadi kedelai lokal.
“Karena jika pelaku produsen tahu hanya mengandalkan kedelai impor akan banyak permasalahan, diantaranya harganya masih belum terjangkau, tidak menutup kemungkinan kuota bisa datang atau tidak. Hal itu bisa memancing hukum permintaan, sehingga harga bisa naik lagi,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga menilai bahwa selama ini pasar tahu masih bertahan di pasar tradisional. Harapannya kedepan bisa dipasarkan ke pasar modern dengan kemasan yang berbeda. “Sehingga dari segi pemasaran harus ada trobosan lain dan harganya lebih tinggi,” ungkapnya.
Untuk itu, Kemi menjelaskan jika dari hasil pembicaraan para produsen tahu mengendaki, pihaknya akan melakukan bimbingan teknis dalam hal produksi, packing maupun pemasaran. “Tetapi ini masih menunggu pelaku usaha tahu berembuk dengan komunitasnya,” pungkasnya. [lus/kun]






