Jombang (beritajatim.com) – Habib Umar bin Hafidz, seorang ulama terkemuka dari Tarim, Yaman, melaksanakan kunjungan ke pondok pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur pada Selasa (22/8/2023). Kehadiran ulama yang memiliki pengaruh global ini terkait dengan acara ‘Multaqo Ulama’ yang digelar di masjid pesantren tersebut.
Saat Habib Umar datang, ribuan orang memadati halaman pesantren yang didirikan pada 1899 itu. Ulama Tarim ini mendapat sambutan hangat. Kedatangan Habib Umar juga didampingi oleh Rais Aam PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) KH Miftachul Achyar beserta ulama penting lainnya. Nampak pula pengasuh Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. Selanjutnya, seluruh rombongan berziarah ke makam pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Di komplek makam tersebut, Habib Umar melantunkan doa dengan khusuk. Doa yang dibaca juga sangat panjang. Seluruh rombongan yang ikut dalam ziarah tersebut menengadahkan tangan seraya mengamini doa itu. Semua berlangsung khidmat. Selanjutnya, rombongan menunaikan salat asar di Masjid Tebuireng.
Dalam sambutannya, pengasuh pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengatakan, pihaknya sangat berbahagia atas kedatangan Habib Umar dalam acara ‘Multaqo Ulama’. “Ini menjadikan semangat bagi kami untuk melanjutkan perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari,” ujar Gus Kikin.
BACA JUGA:
Gubernur Jatim Resmi Buka RSHA Tebuireng Jombang
Gus Kikin kemudian menceritakan awal mula berdirinya pesantren Tebuireng. Yakni, untuk memerangi kemaksiaatan. Karena Tebuireng berdekatan dengan pabrik gula. “Didirikannya Tebuireng di sini untuk memerangi kemaksiatan,” lanjutnya.
Gus Kikin juga mengisahkan saat Kiai Hasyim belajar di Makkah. Termasuk tekad Kiai Hasyim untuk memerdekakan bangsanya. Pendiri NU tersebut juga banyak menulis buku. Bersurat kepada Syaikh Ahmad Katib tentang potensi perpecahan umat Islam di Indonesia.
“Beliau bersama pemimpin-pemimpin organisasi islam banyak melakukan diskusi. Kemudian potensi perpecahan ini mereda. Hingga akhirnya semua sepakat pada 1937 mendirikan MIAI (Majelis Islam a’la Indonesia) yang membawahi 13 organisasi. Termasuk NU ada di dalamnya,” kata Gus Kikin berkisah.

Habib Umar mendengarkan dengan seksama. Pria bersurban ini juga menyampaikan sambutan dalam bahasa arab. Seorang pria di sebelahnya menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Habib Umar kemudian meminta hadirin untuk menyampaikan pertanyaan.
Dialog berlangsung gayeng. Sejumlah hadirin antusias melontarkan pertanyaan. Salah satunya adalah meminta solusi maraknya ateisme yang menjangkiti generasi muda. “Kami memohon bimbingan dari Habib Umar,” ujar salah satu penanya. [suf]






