Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Ni Wayan Sartini meneliti ritual pertanian masyarakat Bali sebagai upaya pelestarian bahasa daerah.
Bahasa Bali menjadi salah satu bahasa daerah di Indonesia yang terdampak gempuran globalisasi. Keberadaan bahasa Indonesia dan bahasa asing telah mendesak keberadaan bahasa Pulau Dewata itu.
Banyak masyarakat Bali, terutama anak-anak muda yang sudah tidak menuturkan bahasa Bali. Oleh karena itu, hal tersebut berimplikasi terhadap posisi bahasa Bali yang makin terhimpit dan memudar.
Menyikapi itu, Prof Wayan melakukan penelitian terhadap ritual pertanian masyarakat Bali sebagai upaya pelestarian bahasa daerah. Menurutnya, bahasa ibaratkan pasien yang juga dapat sekarat dan kritis, lalu mati.
“Bahasa seperti organisme yang hidup, lahir, dan berkembang. Kemudian, jika suatu bahasa tidak digunakan lagi, maka bahasa tersebut bisa mati,” kata Wayan, ditulis Kamis (21/12/2023).
Salah satu upaya yang dapat masyarakat Bali lakukan untuk melestarikan bahasa daerah adalah melalui ritual pertanian. Menurut Wayan, ritual pertanian dan pelestarian bahasa daerah memiliki hubungan yang erat.
Ritual pertanian Bali tidak hanya memberikan kontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memainkan peran penting dalam melestarikan bahasa Bali. Dalam hal ini, leksikon-leksikon dalam tahapan ritual pertanian masyarakat Bali memiliki makna simbolik dan kearifan lokal tentang budaya Bali.
Leksikon-leksikon tersebut mencerminkan sikap, etika, pandangan hidup, dan filosofi masyarakat Bali. Karena itu, pengidentifikasian leksikon ritual pertanian dapat menjadi cara sangat baik untuk mendokumentasikan dan memahami budaya pertanian masyarakat Bali.
“Bahasa dan budaya adalah dua hal yang berkaitan erat satu sama lain. Ritual pertanian masyarakat Bali dengan menggunakan bahasa Bali bukan sekadar serangkaian upacara. Melainkan juga menerapkan filosofi Tri Hita Karana yaitu menggambarkan tiga hubungan, manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam,” jelasnya.
Wayan mengatakan, pelestarian istilah-istilah dalam ritual pertanian masyarakat Bali juga dapat memperkuat khazanah kosakata dalam bahasa Indonesia. Leksikon-leksikon tersebut dapat memberikan sumbangan yang berharga terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan sejumlah alasan.
Pertama, leksikon ritual pertanian mengandung kosakata lokal yang tidak umum digunakan dalam bahasa sehari-hari. Kedua, kata-kata dalam leksikon ritual pertanian seringkali memiliki makna yang mendalam, terkait dengan tradisi, ritual, dan kepercayaan.
Ketiga, peningkatan penggunaan istilah teknis di mana ritual pertanian sering melibatkan istilah-istilah teknis yang unik untuk praktik pertanian tradisional.
Wayan pun menekankan bahwa pelestarikan bahasa Bali melalui ritual pertanian memerlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak mulai dari komunitas lokal, pemerintah, lembaga pendidikan, hingga media.
Ia pecaya, melalui upaya kolaboratif tersebut bahasa Bali dapat tetap lestari dan terus diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktik ritual pertanian yang kaya akan nilai budaya.
“Menjadi global tidaklah harus kehilangan nilai-nilai lokal. Mari bersama membangun tradisi, mari membangun negeri dengan tradisi. Seperti rekognisi Fakultas Ilmu Budaya Unair, Membangun Negeri Berbasis Tradisi,” pungkasnya.
Penelitian tersebut dipaparkan Prof Wayan dalam sidang terbuka pengukuhan guru besar pada Rabu (20/12/2023) di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C Unair. Kini, ia resmi menyandang gelar guru besar bidang Ilmu Etnolinguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair. [ipl/kun]






