Surabaya (beritajatim.com) – Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Surabaya bersama Rumah Yatim Taubatul Ghofilin menggelar Khitan Massal dan Medical Check Up bagi lansia di Maspion Square, Surabaya, Minggu (4/12/2022).
Ketua GOW Surabaya Chusnur Ismiati Hendro Gunawan mengatakan, kegiatan ini sebagai peringatan HUT ke-56 GOW Surabaya dan Milad ke-4 Rumah Yatim Taubatul Ghofilin. “Ada 50 anak yang sedianya kita khitan, tapi kalau lebih masih kita sediakan sampai 100,” ujar Iis sapaan Ismiati Hendro tersebut.
Selain khitan massal, lanjut Iis, pihaknya juga menggelar lomba mewarnai bagi murid sekolah-sekolah yang dinilai di bawah kemampuan rata-rata sekolah pada umumnya. Gow ingin memberikan keleluasaan agar mereka bisa menikmati kegiatan berkreasi.
“Ada 15 anak yang kita ambil untuk bisa menjadi peserta terbaik. Kita lakukan santunan juga untuk anak yatim,” ujarnya.
Iis mengungkapkan, hal penting lain adalah pihaknya yang kini menjadi generasi sandwich, yaitu generasi yang diapit oleh anak-anak dan lansia. Karena itulah, pihaknya memberikan khitan massal dan medikal check up bagi lansia.
“Karena penyakit itu tidak soal harus mencegah dan mengobati, tapi ada hal yang bisa kita prediksi. Sebenarnya itu kita kenapa sih ? Bapak ibu kita diabet, mungkin kita diabet juga. Makanya kita check up. Dulu kita penyintas covid, paru-paru kita seperti apa sih hari ini ? Jadi, ada hal-hal yang bisa diprediksi untuk sebuah kesehatan di masa depan,” jelasnya.
Iis menerangkan, bahwa kegiatan ini diharapkan bisa membuat warga Surabaya bisa lebih nyaman, bahagia, dan tentunya sehat. Sebab, menurutnya banyak kaum rentan yang harus dilindungi, termasuk para penyandang disabilitas.
“Hari ini juga peringatan hari disabilitas. Hari ini kita lakukan dan tampilkan anak-anak yang katanya mereka ini ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), tapi mereka nyatanya bisa mencapai level terbaik, bisa berperan selayaknya yang lain dan mereka benar-benar custom, mereka punya band, dan hari ini tampil,” terangnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”viral”]
Bahkan, disampaikan Iis, para disabilitas tersebut kini juga memiliki profesi.
“Mereka juga punya profesi di luar ini. Aan itu sebagai penerjemah buku-buku bahasa Inggris ke Indonesia. Kemudian ada Rizki yang kadang-kadang foto model. Ada juga Aulia, dia penggiat seni. Dia suka membuat sastra,” ungkapnya.
“Inilah yang katanya anak-anak disabilitas, tapi mereka bisa melakukan hal seperti anak-anak lain,” tandasnya. [ipl/but]







