Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi Batik Festival kembali digelar oleh pemerintah setempat dengan cukup meriah. Gemerlap warna dan indahnya goresan tinta batik menambah eloknya malam di pelataran Creative Hub, Terminal Pariwisata Terpadu.
Kali ini, tepat satu dekade Banyuwangi Batik Festival digelar. Artinya yang menandakan jika Banyuwangi memang konsisten mengembangkan ekosistem batik lokal.
Berkat konsistensi tersebut kini industri dan gerai batik terus tumbuh, paralel dengan banyaknya desainer-desainer muda yang bermunculan. Tidak hanya itu, motif batik Banyuwangi juga terus berkembang dan dieksplorasi dari kekayaan potensi yang dimiliki Banyuwangi.
Baca Juga: Pasca Hujan, Petugas Penanganan Karhutla Gunung Lawu Magetan Pantau Sisa Bara Api
“BBF bukan sekedar fashion show, namun ini adalah memicu lebih pesat pengembangan industri batik Banyuwangi. Tidak hanya di ujungnya saja. Tapi, dari hulu ke hilir. Dari produksi hingga bisa berupa pakaian jadi,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Selama ini, Banyuwangi juga terus mengembangkan potensinya. Salah satunya konsisten menggelar pelatihan dan mendatangkan pelaku industri batik nasional. Termasuk mengundang hadirkan desainer nasional ke Banyuwangi, untuk melatih Indukstri Kecil Menengah (IKM) batik Banyuwangi.
“Alhamdulillah, kini ekosistem batik mulai tumbuh. Pelauku umkm yang awalnya hanya belasan, kini sudah mencapai 60 pelaku usaha batik di Banyuwangi. Belum lagi para desainer yang desainnya sudah semakin bagus, para perajin batik yang juga ikut tumbuh. Kami berharap ekosistem ini terus membesar,” kata Ipuk.
Baca Juga: DPRD Jember Minta Pemkab Segera Tindaklanjuti Evaluasi Gubernur Jatim
BBF tahun ini yang mengangkat motif Sembruk Cacing menampilkan puluhan busana batik dengan tema serupa. Ada busana muslim, casual, resmi, hingga busana pesta. Banyuwangi sendiri memiliki 44 motif batik yang setiap tahunnya secara bergantian diangkat. (rin/ian)






