Mojokerto (beritajatim.com) – Gaung Sakala Bhumi Majapahit merupakan event dalam rangka hari jadi Majapahit ke-730.
Event yang digelar mulai tanggal 19 Oktober hingga 12 November 2023 tersebut digelar Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI dalam rangka perlindungan kebudayaan.
Kepala BPK Wilayah XI, Endah Budi Heryani mengatakan, event Gaung Sakala Bhumi Majapahit merupakan salah satu event yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI dalam rangka peringatan hari jadi Majapahit.
“Ini merupakan peringatan setiap tahun yang rutin digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI,” ungkapnya.
Masih kata Endah, event tersebut tidak hanya sebatas event saja tetapi ada maksud dan tujuan di dalamnya.
Dimana BPK Wilayah XI, mempunyai tugas, pokok dan fungsi (tupoksi) di bidang perlindungan kebudayaan. Sehingga semua kegiatan di Gaung Sakala Bhumi Majapahit tujuannya adalah untuk perlindungan kebudayaan.
“Dari event-eventnya kita kurasi yang berkaitan dengan Majapahit, yang kita tarikan kembali agar diingat dan dilakukan kemudian disayangi sehingga lestari oleh anak-anak. Jadi memang kita banyak melibatkan sanggar, sekolah dan peserta didik yang menang di Festival Panji Anak dan Remaja,” katanya.
Baca Juga: Hari Lahir Majapahit 12 November 1293, Kerajaan Terbesar Nusantara
Mereka diberikan ruang untuk berekspresi di Gaung Sakala Bhumi Majapahit. Selain melibatkan anak-anak, dalam event tersebut ada pargelaran ludruk sebagai kuradi bentuk petlindungan BPK Wilayah XI terhadap OPK atau kebudayaan di Jawa Timur.
“Kita tidak hanya seneng-senengnya, tari-tarinya saja tapi kita juga harus ngobrol tentang ilmu pengetahuannya. Yaitu berdialog menyampaikan peradapan Majapahit itu seperti apa? Ini merupakan upaya perlindungan kami terhadap kebudayaan,” jelasnya.
Dalam dialog ‘Merawat Peradapan Majapahit’ yang digelas di Museum Trowulan, Minggu (12/11/2023) kemarin menghadirkan sejumlah narasumber. Diantaranta, Guru Besar Universitas Indonesia Prof Agus Aris Munandar, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Dr Titi Surti Nastiti, Ketua Komunitad Brang Wetan Hendri Nur Cahyo, Institut Sejarah Sosial Indonesia I Gusti Anom Astika dan Ketua I Deni. [tin/ted]






