Gresik (beritajatim.com)– Pandemi covid-19 tidak menyurutkan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) melakukan penelitian terkait perubahan iklim hasil budidaya udang bagi petambak tradisional.
Dengan menggandeng University Turku asal Finlandia dan University of Tokyo serta Hitotsubashi University asal Jepang, UMG melakukan riset selama enam bulan dengan mengambil sampling penelitian di daerah Gresik Selatan dan Gresik Utara.
Kepala Program Studi (Prodi) Akuakultur (Budiaya Perikanan) UMG Dr Farikah menuturkan, latar belakang penelitian ini adanya isu global yang mempengaruhi budidaya perikanan khususnya udang.
“Kami memilih petani tambak udang karena sampai saat ini budidaya ini masih menjadi komoditas dunia. Ditambah lagi, sebagian besar petambak tersebut masih tradisional dan minim pengetahuan terhadap soal lingkungan,” tuturnya, Rabu (18/8/2021).
Farikah menjelaskan, selama penelitian di lapangan, berdasarkan survei yang dilakukan terbukti ada perubahan. Hal ini bisa dilihat dari tingginya permukaan air laut saat masuk ke tambak, atau rob dan air banjir yang menerjang tambak.
“Kondisi seperti itu, banyak terjadi di daerah Gresik Utara seperti di Pangkah Kulon serta sebagian Manyar. Kondisi demikian juga terjadi di daerah Tambakberas dan Betiring, Kecamatan Cerme,” paparnya.
Dari penelitian itu, kata dia, maka budidaya di Gresik Selatan dan Utara berbeda cara penanganannya. Kalau di utara lebih banyak karena adanya rob. Sementara di daerah selatan akibat adanya banjir meluapnya sungai.
Ia menambahkan, penekanan pada penelitian ini lebih menitikberatkan bagaimana petambak udang bisa me-maintenance saat membudidayakan udang. Sebab, cara pemberian pakan dan lain-lain sangat berbeda dan tidak bisa disamakan karena iklim geografinya berbeda.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tambak”]
“Harapannya dari hasil penelitian ini, para petani tambak tradisional bisa mengantisipasi jika terjadi perubahan iklim,” imbuhnya.
Masih menurut Farikah, selama melakukan penelitian, dirinya bersama mahasiswanya juga mengalami kendala saat menjaring responden. Pasalnya, dari target 2.500 responden hanya 75 orang yang bersedia. Kondisi ini tentu menyulitkan di tengah pandemi covid-19.
“Alhamdulillah setelah melalui perjuangan yang keras, akhirnya berhasil memperoleh 1.800 responden selama enam bulan dari dua bulan yang semula direncanakan,” ungkapnya.
Sementara Dekan Fakultas Pertanian UMG Rahmad Jumadi mengatakan, kerjasama universitas di Jepang dan Finlandia awalnya melakukan studi ke negara tersebut kemudian ditindaklanjuti. “Hasil dari sana lalu ditindaklanjuti melalui penelitian bersama,” pungkasnya. [dny/suf]






