Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana, mendesak pemerintah provinsi memperluas dan memperkuat program Millenium Job Center (MJC). Menurutnya, program yang ada belum maksimal dalam menekan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengangguran di Jawa Timur.
“Program ini lebih banyak menekankan pelatihan digital dan kerja berbasis proyek dalam pengembangan hasil UMKM. Namun belum menyasar sektor riil seperti pertanian dan industri manufaktur yang sejatinya menjadi penyerap tenaga kerja terbesar,” tegas Bunda Renny, sapaan akrabnya, di DPRD Jatim, Senin (22/9/2025).
Ia menjelaskan, MJC dirancang sebagai platform pelatihan, pendampingan, dan akses kerja bagi generasi muda. Namun, program ini masih memiliki kelemahan terutama dalam pemerataan dan keterjangkauan.
Berdasarkan data BPS Jawa Timur per Februari 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 3,61 persen atau setara 894,5 ribu orang. Meski menurun dibanding Agustus 2024 yang mencapai 4,19 persen, Jawa Timur tetap menjadi provinsi dengan jumlah pengangguran terbesar ketiga di Indonesia.
“Sehingga ini perlu disikapi. Dan program MJC harus menjadi salah satu upaya dalam mengatasi pengangguran terbuka,” ujar anggota Komisi E DPRD Jatim ini.
Ia menegaskan MJC merupakan bagian dari program Nawa Bhakti Satya Jatim Kerja yang bertujuan memperluas lapangan pekerjaan sekaligus membangun keunggulan ekonomi daerah. Namun, keterbatasan jangkauan menjadi persoalan lain karena peserta MJC saat ini masih didominasi anak muda perkotaan yang memiliki akses internet dan perangkat memadai.
“Kalau tidak diperluas, MJC hanya akan dinikmati sebagian kelompok, bukan menjadi solusi menyeluruh bagi persoalan pengangguran di Jatim,” tandasnya.
Fraksi PDI Perjuangan juga menyoroti minimnya integrasi MJC dengan roadmap ketenagakerjaan nasional. Menurutnya, sinkronisasi penting agar program tidak berjalan sendiri dan sejalan dengan target pembangunan pusat.
Oleh sebab itu, Fraksi PDIP merekomendasikan beberapa langkah strategis. Di antaranya mereorientasi program MJC agar lebih menyasar sektor riil, memperluas akses bagi pemuda desa, korban PHK, dan lulusan SMK, serta memastikan investasi yang masuk ke Jawa Timur berkualitas dan menyerap tenaga kerja lokal.
“Kami mendukung upaya pemberdayaan generasi muda, tapi jangan hanya sebatas pelatihan tanpa kepastian kerja. Yang paling penting, program ini harus memberi peluang nyata agar anak-anak muda dan mereka yang terkena PHK di Jawa Timur bisa bekerja dan berdaya di tanah kelahirannya sendiri,” pungkas Bunda Renny, politisi perempuan asal daerah pemilihan Kediri ini. [asg/beq]






