Surabaya (beritajatim.com) – Prodi Ilmu Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) hari ini menggelar Adjunct Professor Inauguration yang diberikan kepada Prof Poodipedi Sarat Chandra, MD. Ahli bedah saraf dari AIIMS (All Institute of Medical Sciences) New Delhi, Selasa (12/10/2021).
Dekan FK Unair, Prof Budi Santoso mengatakan bahwa FK Unair memiliki target untuk berkolaborasi bersama 18 Adjunct Professor dalam satu tahun. Kolaborasi ini pun merupakan kali pertama Prof Poodipedi dengan FK Unair. Prof Poodipedi merupakan ahli bedah epilepsi minimal surgery dengan rekam jejak sebanyak 25000 penanganan bedah yang 2000 di antaranya merupakan kasus epilepsi, (hak paten di dunia medis dan ratusan jurnal internasional.
“Dengan rekam jejak yang begitu luar biasa, kami menginagurasi Prof Poodipedi untuk melakukan kolaborasi riset, kuliah tamu, bimbingan Phd program dan SDM exchange, meski kami sudah mulai melakukan epilepsi minimal surgery di RSUD Dr Soetomo, kapasitas dan pengalaman beliau sangat diperlukan untuk pembelajaran dan pendalaman lebih lanjut,” ujar Prof Budi yang akrab disapa Prof Bus ini.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unair”]
Saat ini di Indonesia hanya ada 2 dokter yang fokus pada penanganan epilepsi, yakni di Semarang dan Surabaya. Salah satunya adalah dr Heri Subinato, SpBS yakni dokter FK Unair yang belajar langsung di Central Epilepsi di New Delhi bersama Prof Poodipedi. dr Heri mengatakan bahwa kasus epilepsi sangat umum ditemukan di Indonesia, tetapi penanganannya saat ini lebih banyak menggunakan obat-obatan anti kejang. Sedangkan dengan teknik epilepsi minimal surgery, pasien dapat disembuhnya atau minimal dikurangi gejalanya.
“Apa yang jadi spesialisasi Prof Poodipedi itu menjadi sangat penting ya, karena hanya sedikit sekali dokter yang mengambil spesialisasi epilepsi. Padahal peluang untuk sembuh sangat besar, terlebih epilepsi minimal surgery itu tidak terlalu menakutkan karena dengan mekanisme minimal infansi dan pasien masih dioperasi dalam keadaan sadar. Sehingga membantu sekali,” pungas dr Heri. [adg/but]






