Jember (beritajatim.com) – Mitigasi bencana perlu melibatkan semangat keagamaan melalui fikih kebencanaan dan fikih lingkungan. Keterlibatan agama ini dibutuhkan di tengah mayoritas masyarakat di daerah rawan bencana yang beragama Islam.
Demikian benang merah pendapat Yudhiakto Pramudya, dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan anggota Community Emergency Response Team, Amerika Serikat 2010-2013, dan Moch. Eksan, pendiri Eksan Institute dan mantan anggota DPRD Jawa Timur.
“Pelibatan pemuka agama diperlukan seiring dengan meningkatnya literasi bencana dalam perspektif agama. Sebagai contoh adanya Fikih Bencana di Muhammadiyah. Mitigasi bencana perlu dilakukan rutin dan inklusif termasuk mitigasi pada difabel,” kata Yudhiakto.
Eksan mengatakan, parameter sukses penanganan bencana bukan pada keberhasilan mencegah bencana, melainkan keberhasilan meminimalisasi korban. Apalagi secara geologis Indonesia adalah negara yang rawan bencana. “Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa selama 2020, terjadi 3.254 kejadian bencana di Indonesia. Secara material, kerugian akibat bencana yang diderita oleh bangsa ini sebesar Rp 22,8 triliun per tahun. Selama 10 tahun terakhir, berbagai bencana alam itu menelan korban 1.183 orang meninggal dunia,” katanya.
Baru-baru ini, erupsi terjadi di Gunung Semeru Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. “Dalam perspektif fikih lingkungan, erupsi sesungguhnya fenomena geologis yang mengabarkan ayat-ayat kauniyah. Betapapun akal fikiran manusia telah menaklukkan alam, ia tetap makhluk yang dhaif. Ilmu manusia yang sampai sekarang hanya bisa mendeteksi erupsi dan belum bisa mencegah erupsi itu sendiri. Alat pantau gunung merapi, seperti seismometer dan tiltmeter, hanya bisa mendeteksi untuk menghindari banyaknya korban berjatuhan,” kata Eksan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gunung-semeru”]
Al-Qur’an mengemukakan kata persepadanan gunung dengan kata “jibal” yang disebut 34 kali. :Di antaranya mengatakan dengan jelas, bahwa gunung adalah pasak bumi, seperti dalam QS Al-Annaba ayat 6-7, ‘Bukankah telah Kami jadikan bumi sebagai hamparan. Dan Kami jadikan gunung-gunung sebagai pasak?’,” kata Eksan.
Gunung juga menstabilkan goncang-goncangan bumi, seperti dalam QS Al-Anbiya ayat 31. “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka,” kata Eksan.
Alumnus Himpunan Mahasiswa Islam ini menegaskan, erupsi Gunung Semeru merupakan bencana alam yang tajbiri (yang harus diterima) tanpa kuasa mengelak. Namun dampak bencana dari letusan gunung adalah takhyiri (yang wajib diusahakan) untuk dikurangi. “Sehingga, pemerintah harus mengakui bahwa korban yang banyak berjatuhan itu merupakan “kelalaian geologis”. Pemerintah di semua tingkatan, mesti menyesali dan memohon ampun keharibaan Allah SWT, seraya bersungguh-sungguh untuk memperbaiki tata kelola kebencanaan guna sebar-besarnya melindungi segenap tumpah darah Indonesia,” kata Eksan. [wir/suf]






