Jombang (beritajatim.com) – Tim ESN (Ekspedisi Sungai Nusantara) menggelar pameran ‘Tolak Kopi Sachetan’ di atas sungai Wonosalam Jombang. Dalam acara itu, dipamerkan foto-foto sampah sachet yang menjadi problem sampah di sungai-sungai Pulau Jawa.
Ketua panitia pameran Diki Dwi Cahya mengatakan, acara tersebut digelar mulai Jumat (4/3/2022) hingga Minggu (6/3/2022). Walhasil, selama pameran sebanyak 500 pengunjung hadir di lokasi. “Kami pamerkan foto-foto sampah sachet,” kata Diki, Minggu (6/3/2022).
Pameran di atas air ini tergolong unik karena pengunjung pameran harus berbasah-basah untuk bisa menikmati boot pameran yang menyuguhkan puluhan foto. Dalam foto itu menjelaskan problem sampah plastik yang mencemari Sungai Brantas, Bengawan Solo, Ciliwung dan Sungai Citarum.
Tonis Afriyanto, koordinator Zerowaste Ecoton, menambahkan, setiap tahun ada 8 juta ton sampah plastik yang dihasilkan penduduk Indonesia. Ironisnya, pemerintah hanya mampu mengolah 3 juta ton. Praktis, sebanyak 5 juta ton sampah tercecer di alam dan tidak terkelola.
“Selain dibakar, sampah plastik yang tak terolah dibuang ke sungai sebesar 2,7 ton. Sampah tersebut mengalir ke laut dan sebagian tersangkut di pohon-pohon tepi sungai,” ungkap Tonis menambahkan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sampah”]
Pameran di atas air yang digelar Ecoton juga mengajak pengunjung melakukan pengamatan kandungan mikroplastik dalam air. Tentu saja, hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Hal itu seperti diungkapkan salah satu pengunjung, Sofi Azilan Aini.
“Pameran ini inovatif dan informatif. Kami mendapatkan banyak pengetahuan tentang bahaya plastik. Kami juga jadi tahu kalau dalam air mengandung mikroplastik,” kata mahasiswi semester delapan Universitas NU Surabaya (Unusa) ini.
Abdul Mukti, pengunjung lainnya mengatakan, pameran plastik di atas air ini merupakan wahana edukasi, rekreasi. Juga mengajak pengunjung untuk ikut menjadi ilmuwan. “Karena kita diajak langsung melakukan penelitian mikroplastik di sungai,” ungkap pengunjung pameran dari Gresik ini.
Memang dalam pameran tersebut, pengunjung dapat melihat langsung bentuk mikroplastik yang diambil dari air sungai di lokasi. Jenis mikroplastik yang banyak ditemukan adalah jenis fiber yang berasal dari serat pakaian dan sampah popok bayi.
Apresiasi senada juga diungkapkan Slamet Sukarti, guru SMP Nidhomuddin Sidoarjo. Menurutnya, pameran yang digelar ESN banyak memberikan muatan edukasi bagi pelajar di masa pandemi ini. “Pamerannya bisa buat spot foto dan wisata foto,” ungkapnya.
Sementara itu, Daru setyorini, dosen Universitas Darul Ulum Jombang mengungkapkan bahwa sampah plastik memiliki dampak serius bagi lingkungan dan kesehatan. Karena pecahan atau serpihan plastik dapat berubah menjadi mikroplastik.
“Pameran ini menunjukan kepada kita bahwa problem sampah plastik harus dikurangi dengan tindakan nyata. Kita sebagai warga bumi punya tanggung jawab untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, termasuk kemasan kopi berbahan plastik (sachet). Krena sampah sachet sulit didaur ulang,” jelasnya.
Pameran bahaya plastik ini rencananya digelar di kota-kota sepanjang aliran Sungai Brantas. Di antaranya, Malang, Kediri, Tulungagung, dan Blitar. [suf]







