Jember (beritajatim.com) – Enam fraksi di DPRD Jember, Jawa Timur, kompak mendesak Bupati Hendy Siswanto agar segera merealisasikan belanja tak terduga (BTT) untuk penanganan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Desakan ini dilontarkan dalam sidang paripurna pandangan umum fraksi menanggapi Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (LPP APBD) Jember 2021 di gedung DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (19/7/2022).
“Secara statistik, angka kematian ternak sapi memang sangat rendah dibandingkan populasi sapi secara keseluruhan maupun populasi sapi yang sakit. Namun secara ekonomi, wabah PMK ini membuat peternak dalam kondisi terjepit, karena harga pasaran sapi potong yang dimiliki anjlok dan membuat mereka rugi. Belum lagi sapi perah yang kehilangan sebagian besar produksi susunya karena PMK,” kata Mufid, juru bicara Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.
[berita-terkait number=”5″ tag=”dprd-jember”]
Fraksi PKB mendorong Pemkab Jember agar segera merealisasikan anggaran BTT untuk penanganan PMK. “Jangan ragu-ragu bertindak cepat demi kemaslahatan rakyat. Asalkan semua dilakukan secara transparan dan taat asas, maka maju terus pantang mundur adalah satu-satunya pilihan. Hari ini peternak membutuhkan bantuan untuk menyembuhkan ternak mereka,” kata Mufid.
Mashuri Harianto dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengingatkan, Jember adalah lumbung ternak di Jawa Timur dengan jumlah ternak berkuku belah sejumlah 417.522 ekor menurut data Dinas Peternakan Jawa Timur pada 2021. “Semuanya butuh divaksin. Jember masih kekurangan 30 kali lipat lebih lagi jumlah vaksin untuk mengamankan harta para peternak,” katanya.
Betapa tidak, menurut data pemerintah, jumlah sapi potong 274.162 ekor, sapi perah 1.537 ekor, kerbau 286 ekor, kambing 56.194 ekor, domba 84.354 ekor, babi 537 ekor, dan kuda 452 ekor. “Kami siap membantu jalannya vaksinasi dan pengentasan wabah PMK seperti yang kami dan seluruh partai politik lakukan ketika wabah Covid-19,” kata Mashuri.
PKS berharap penutupan pasar hewan dapat segera direalisasikan secara resmi. “Wabah PMK ini masih jauh dari kata berakhir dan berdampak berat bagi kehidupan para peternak. Kami juga meminta polemik relawan PMK segera dituntaskan. Ada 11.200 dosis vaksin sudah ditunggu para peternak yang setiap hari dilanda waswas. Ternak kita butuh vaksinator yang mampu bergerak cepat,” kata Mashuri.
“Pemerintah Provinsi Jatim sudah mencairkan BTT untuk PMK pada pekan pertama Juli. Kami harap Jember dapat segera mengikuti dan menyusul untuk memberikan BTT untuk bantuan sosial kematian ternak yang bergelimpangan di kandang-kandang peternak,” kata Mashuri.
Sementara itu, Muhammad Iqbal, juru bicara Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, menyebut wabah PMK sebagai musibah besar bagi masyarakat Jember. “Sebagian besar peternak sapi tidak hanya pemodal tetapi lebih dominan sebagai seorang yang menernakkan sapi milik pengusaha dengan bagi hasil. Mereka berharap banyak bahwa dengan berternak sapi akan mampu mengangkat ekonomi keluarga,” katanya.
“Dalam situasi dan kondisi tersebut, seharusnya pemerintah daerah sesegera mungkin mengambil langkah-langkah taktis dan startegis. Meskipun terkesan terlambat, kami mengapresiasi positif langkah antisipatif bupati dengan mengalokasikan anggaran dana taktis yang terdapat pada anggaran di Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Jember untuk digunakan pembelian obat,” kata Iqbal.
David Handoko Seto, juru bicara Fraksi Partai Nasdem, meminta status darurat yang sudah ditetapkan Pemkab Jember segera diikuti anggaran pelaksanaan kegiatan. “Kami dorong Pemkab Jember untuk bisa segera menggunakan anggaran BTT seperti hasil konsultasi kami ke Provinsi pekan lalu, mengingat saaat ini kasus PMK di Jember sudah tembus lebih dari 10 ribu ekor sapi. Kami juga meminta kepada bupati untuk bisa menguatkan intruksi untuk menutup sementara pasar hewan sampai situasi terkendali,” jelasnya.
Hal serupa juga dikemukakan Ketua Fraksi Pandekar Agusta Jaka Purwana dan juru bicara Fraksi Gerakan Indonesia Berkatya, Alfian Andri Wijaya. “Serangan wabah PMK terhadap hewan ternak semakin mengerikan. Kami sangat berharap Pemkab Jember mencari solusi cepat mengatasi hal itu, agar wabah bisa segera dihentikan dan tidak semakin merugikan para peternak hewan,” katanya. [wir/kun]






