Malang (beritajatim.com) – Pengamat Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Noval Adib menilai, adanya penyertaan modal pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang merugi, agar ditutup atau dibubarkan.
Menurut Noval, apabila pemerintah daerah tidak diuntungkan dari badan usaha mereka, penutupan adalah langkah yang bijak.
“Jika memang tidak menguntungkan, tidak ada penambahan PAD, ya Pemkab Malang jangan ragu untuk menutup Kigumas selaku BUMD,” tegas Noval Adib, Selasa (13/6/2023) sore.
Noval yang menjabat Ketua Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Brawijaya (UB) Malang ini menjelaskan, Kigumas sebagai BUMD yang menjadi aset Pemkab Malang, sudah mangkrak cukup lama.
“Ini pabrik gula Kigumas kan juga sudah mangkrak 10 tahun ya, artinya kalau memang tidak ada sumbangsih pendapatan bagi pemerintah daerah sebaiknya ditutup secepatnya,” tutur Noval.
Noval menilai, suntikan dana bagi perusahaan milik daerah yang tidak sehat, berpotensi bermasalah. Jika hasil audit dari BPK RI ada temuan, ini bagus sebagai langkah pemerintah daerah mengambil kebijakan setelahnya.
“Kalau hasil audit BPK ada keuangan yang tidak sehat di Kigumas, ya harusnya ditutup. Itu respon positif dari BPK apabila ada temuan keuangan disana,” tegas Noval.
Soal apakah mungkin Kigumas kembali dihidupkan, secara teknis Noval belum mengetahui secara pasti. Hanya saja, dibutuhkan kajian mendalam.
BACA JUGA:
UB Malang Komitmen untuk Keterbukaan Informasi Publik
“Jika Kigumas dipertahankan juga harus ada kajian yang serius. Soal produksinya, saya yakin karena ini produksi gula yang notabene masuk kebutuhan pokok, pasti laku dan punya pasar tersendiri. Artinya terserap oleh pasar. Bahan baku juga melimpah, karena wilayah Malang banyak petani tebu,” tuturnya.
Noval menambahkan, pihaknya ragu apabila Kigumas tidak mampu bersaing di industri gula yang notabene, masuk kebutuhan pokok dan mudah terserap pasar. Sehingga, hancurnya Kigumas, bisa jadi karena faktor manajerial yang kurang baik.
“Kalau soal produksi gula saya yakin bisa diterima masyarakat, entah manajemen yang gak profesional atau ada faktor lain yang membuat Kigumas terpuruk. Tapi pilihan Kigumas ditutup saya pikir cukup tepat karena gagal membawa pendapatan asli daerah,” pungkasnya. [yog/but]






