Ekbis

Sehari, Puluhan Ton Jeruk Nipis Banyuwangi Dibuang

Salah seorang pedagang membuang jeruk nipis di tempat sampah, karena kondisinya rusak dan busuk. (rindi)

Banyuwangi (beritajatim.com) – Harga jeruk nipis di Banyuwangi terus mengalami penurunan. Harga jeruk saat ini mencapai titik terendah yaitu Rp 500 perkilogram.

Pedagang di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo mengeluh penurunan harga ini. Pasalnya, semakin membuatnya merugi.

Betapa tidak, setiap hari satu pedagang harus membuang jeruk nipis sampai 2 ton, karena terlalu lama dalam timbunan. Hal ini membuat kondisi jeruk mengalami rusak dan membusuk.

“Ya, kalau pas banyak barang di sini menumpuk. Kalau terlalu lama di ambil oleh tengkulak besar ya hasilnya pasti banyak yang rusak. Kemudian kita akan sortir lagi, sisanya kita buang,” ungkap Robet Saputra salah seorang pedagang dan pengepul jeruk nipis di Desa Kalipait, Selasa (9/3/2021).

Salah seorang pedagang membuang jeruk nipis di tempat sampah, karena kondisinya rusak dan busuk. (rindi)

Kadang, kata Robet, pihaknya sampai kewalahan karena banyaknya jeruk nipis yang kondisinya menurun dan rusak. Dibuang sayang, dijual tidak laku.

“Kadang membuang saja kita itu susah. Di tempat sampah belakang rumah sudah penuh. Kadang kita berikan ke orang kalau ada yang mau terserah tinggal ambil. Kalau sudah begini dimakan gak bisa, dibuat minuman juga terlalu banyak. Jalan satu-satunya ya dibuang saja,” terangnya.

Menurutnya, turunnya harga jeruk nipis dikarenakan jumlah pembelian di pasar pengiriman yang menurun. Ditambah cuaca hujan juga menjadi salah satu kendala.

“Di sini jumlah panennya juga banyak. Pasar tidak mampu menampung. Apalagi banyak lokasi pengiriman saat ini hujan deras dan banjir. Sehingga pembelian juga ikut turun,” katanya.

Kondisi tumpukan jeruk nipis menggunung di tempat sampah karena tidak laku dijual. (rindi)

Sementara itu, Rumini salah seorang petani menyebut dirinya lebih memilih membiarkan buah jeruknya jatuh dari pohon dari pada memetiknya. Karena, hasil panen tidak setara dengan harganya.

“Harga jeruknya murah, panennya susah banyak durinya. Kalau malas ya kita biarkan saja jatuh di pohon,” pungkasnya. (rin/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar