Ekbis

Kisah Sukses Peternak Sapi Perah asal Lereng Gunung Wilis Tulungagung

Tulungagung (beritajatim.com) — Seorang peterak sapi perah asal Lereng Gunung Wilis, tepatnya di Kampung Baru, Penjor, Kabupaten Tulungagung sukses menekuni usahanya.

Selain mampu menghidupi ekonomi keluarga dan membeli beberapa bidang tanah dan kendaraan bermotor, dia mendapatkan kesempatan belajar berternak langsung ke Belanda. Dialah Mita Kopiyah.

Mita memulai karirnya dalam dunia peternakan sapi perah sejak tahun 2005. Dia melanjutkan Profesi peternak dari keluarganya. Namun, orang tua Mita berkecimpung dalam peternakan sapi potong.

Keinginan mengubah haluan dari peternak sapi potong ke peternak sapi perah dimulai ketika dia dan suaminya melihat saudara dan tetangga yang lebih dulu menjadi peternak sapi perah.

“Saya adalah generasi peternak sapi perah pertama di keluarga. Awalnya kami melihat saudara atau tetangga yang lebih dulu beralih menjadi peternak sapi perah. Sepertinya mereka mempunyai penghasilan lebih setiap bulan. Sementara jenis sapi pedaging harus menunggu lebih lama lagi,” ujar Mita

Awalnya, Modal membeli sapi perah didapatkan dari memelihara sapi perah milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Perlahan, pendapatan dari sistem ini mampu membeli satu sapi sendiri.

Hingga saat ini, Mita dan suaminya mempunyai 15 sapi perah dengan produksi sekitar 75 liter/hari.

Pada 2018, Mita resmi bergabung sebagai peternak binaan Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui Koperasi Bangun Lestari, dengan mengikuti program Farmer2Farmer.

Pada tahun berikutnya (2019), dirinya terpilih menjadi salah satu dari 4 peternak yang diberangkatkan ke Belanda dalam naungan program tersebut selama dua pekan untuk mengikuti berbagai pelatihan langsung dengan peternak Belanda.

Disana, Mita diajarkan manajemen kandang serta sistem pemeliharaan dengan standar “Good Farming Practices For Animal Production Food Safety” yang ditetapkan oleh FAO. Standar penilaian keberhasilan usaha peternakan sapi perah menurut FAO terdiri dari beberapa aspek teknis antara lain: aspek pembibitan dan reproduksi, pakan dan air minum, pengelolaan, kandang dan peralatan, kesehatan dan kesejahteraan ternak.

“Banyak pengetahuan yang didapatkan, terutama tentang kesehatan sapi, cara pemberian rumput, konsetrat & air minum, hingga pola bentuk kandang yang tepat. Satu hal lagi yang paling penting adalah kebiasaan untuk mencatat atau diary sapi. Jadi kami tahu produksi dan perkembangan sapi setiap hari. Sebelum mengikuti F2F, produksi susu dari peternakan biasanya hanya di angka 8-12 liter/ekor/hari. Setelah program F2F, produksi sekarang biasanya stabil di angka 15-18/liter/ekor/hari. Bahkan beberapa hari bisa mencapai 26 liter. Secara pendapatan, kami juga mengalami kenaikan bahkan saat ini, anak saya tertarik untuk melanjutkan usaha ini,” ujar Mita.

Kompetisi Farmer2Farmer 2019 merupakan bagian dari program Farmer2Farmer dari FFI. Program berkelanjutan ini bernaung di bawah Dairy Development Program (DDP) oleh perusahaan induk, FrieslandCampina, dan merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan tujuan perusahaan, yaitu Nourishing by Nature ke dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut dilakukan dalam mencapai tujuan jangka panjang perusahaan yaitu memberikan nutrisi yang lebih baik kepada dunia, meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah lokal di negara-negara perusahaan beroperasi, serta membangun dunia yang lebih baik untuk generasi sekarang dan yang akan datang.

Tahun 2019 merupakan tahun ketujuh dari implementasi program Farmer2Farmer. Secara nasional, kompetisi ini dimulai dari awal tahun dengan melibatkan para peternak sapi perah lokal yang berasal dari empat koperasi peternak sapi perah di Jawa Barat dan Jawa Timur, yaitu Koperasi Peternakan Sapi Bandung Selatan (KPSBS) Pangalengan dan Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang di Jawa Barat, Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur dan Koperasi Bangun Lestari di Jawa Timur. [nng/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar