Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi bisa dikatakan surganya kuliner khas Nusantara. Cita rasa pedas dominan di setiap masakan yang diciptakannya.
Seperti masakan satu ini, olahan ayam pedas menjadi andalan daerah ini. Kali ini, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut menyajikan duel cita rasa ayam pedas warung legendaris di gelaran Banyuwangi Art Week.
Sejumlah warung legendaris yang menyajikan menu ayam pedas tampil di acara tersebut. Bak kompetisi, setiap warung menunjukkan cita rasa yang berbeda. Namun tetap nikmat dengan sensasi pedas tentunya.
Ada ayam pedas Jeng Sri asal Jajag, Gambiran. Ada Warung Tepi Sawah (WTS) asal Purwoharjo, Ayam pedas Mbak Pon Rogojampi dan Bu Cing Jalan Losari, Banyuwangi juga tak ketinggalan untuk ambil bagian. Tidak lupa Warung Bu Sri dari Sambirejo, Kecamatan Bangorejo.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut, kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kuliner lokal. Sekaligus untuk mendorong pertumbuhan UMKM lokal.
“Banyuwangi ini kaya dengan ragam kuliner lokal yang khas. Ini perlu kita kenalkan ke masyarakat biar semakin laku dan warung-warungnya makin berkembang,” ungkap Ipuk.
BACA JUGA:
Ribuan Posyandu di Banyuwangi Punya Layanan Kesehatan Khusus, Apa Itu?
Ayam pedas, kata Ipuk, punya cita rasa yang khas. Bahan utama masakan ini adalah daging ayam kampung yang dipanggang, kemudian diguyur kuah pedas yang kaya rempah, membikin daya tarik tersendiri.
“Jika ada ayam pedas di tempat lain, pasti tidak akan sama dengan apa yang ada di Banyuwangi,” tegasnya.
Rata-rata, masakan dengan khas pedas ini muncul di wilayah Banyuwangi selatan. Bahkan, setiap kecamatan punya warung dengan ciri khas rasa legendaris masing-masing.
Salah satunya Warung Bu Sri di Sambirejo. Lokasi warung dekat Puskesmas itu telah berdiri sejak 1994.
“Saya ini generasi kedua. Dulu yang merintis ibu dibantu bapak. Sekarang saya sudah dibantu empat orang karyawan,” ungkap Usman Assiri.
BACA JUGA:
TPS 3R Banyuwangi Beroperasi September Libatkan Warga Sekitar
Begitu juga Ivan sang pengelola warung ayam pedas Jeng Sri, Jajag, Kecamatan Gambiran. Warung ini justru sudah masuk generasi keempat.
Bahkan, nenek buyut pendiri warung ini memulai usahanya sejak 1981. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan cita rasa ayam pedas yang disajikan.
“Sekarang kita berupaya untuk ikut event-event yang dulu belum pernah dilakukan oleh orang tua kami. Saya ingin warung kami lebih berkembang lagi,” pungkas anak muda tersebut. [rin/beq]







