Malang (beritajatim.com) – Dosen yang tergabung dalam program penelitian desentralisasi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (FS UM) melakukan rekonstruksi kerangka estetika tari jaranan Bromo Tengger Semeru (BTS) Tumpang. Penelitian yang Dra E. W Suprihatin Dyah Pratamawati, M.Pd., itu bertujuan untuk pengembangan sektor pariwisata.
Dra. Suprihatin Dyah, menjelaskan bahwa penelitiannya melakukan rekonstruksi kerangka estetika performance jaranan kreasi BTS Tumpang dengan durasi waktu yang pendek untuk pengembangan pariwisata di kabupaten Malang.
“Biasanya wisatawan datang ke suatu tempat tidak punya waktu lama untuk menonton suatu pertunjukan. Kami melihat potensi menarik dari jaranan BTS ini. Jadi, tujuan utama dari rekonstruksi ini erat kaitannya dengan pengembangan pariwisata,” ujar Suprihatin Dyah, Rabu (14/6/2023).
Rekonstruksi tersebut adalah tari estetikanya saja atau kembangan pertama, tidak untuk kembangan kalapan. Beberapa rekonstruksi yang dilakukan antara lain penggunaan seragam tari, dan durasi penyajian lebih hanya singkat sekitar sepuluh menit.
“Biasanya sekali pentas, kelompok Jaranan BTS Tumpang menyajikan durasi pertunjukkan yang panjang. Misalnya start pukul 15.00 WIB akan break pukul 18.00 WIB, lalu mulai lagi pukul 19.00 WIB sampai dengan pukul 02.00 WIB dini hari,” ujarnya.
Dia menuturkan bahwa pertunjukkan jaranan BTS biasanya terbagi menjadi dua sesi kembangan. Pertama tari estetika yang tujuanya untuk menarik perhatian penonton. Kedua untuk menuju kalapan. Sesi kembangan sendiri durasi penyajiannya bisa satu setengah jam.
“Di situ aslinya tidak memakai kostum, hanya kaos seragam kelompok, kemudian direkonstruksi dengan memakai kostum lengkap serta tata rias lengkap, musiknya juga merupakan hasil rekonstruksi,” jelasnya Dosen FS UM ini.
Launching rekonstruksi tari jaranan BTS Tumpang berlangsung di depan Gedung PRIMKOPTI Bangkit Usaha, jalan Sanan, Blimbing, Malang. Agenda itu berlangsung terbuka disaksikan masyarakat umum, Minggu 11 Juni 2023 lalu.

“Acara itu menjadi awal sosialisasi, kemungkinan untuk kedepan jika di Tumpang ada event kita bisa ikut tampil di sana, atau mungkin juga di tempat lain. Istilahnya penampilan ini launching perdana hasil rekonstruksi tari jaranan BTS Tumpang,” jelas ketua tim penelitian desentralisasi FS UM.
Penari tari jaranan Tumpang hasil rekonstruksi merupakan mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang (UM). Pemusik berjumlah 6 orang semuanya berasal dari seniman Jaranan Tumpang.
Penelitian tersebut merupakan penelitian lanjutan dari tahun 2021 lalu. Dari situ sudah membuahkan satu buku berjudul ‘Jaranan BTS (Bromo-Tengger-Semeru):Tumpang Kabupaten Malang Jawa Timur’ diterbitkan oleh Singgasana Budaya Nusantara.
BACA JUGA:
Smart Garden, Teknologi Budidaya Anggrek Buatan Dosen UM Berbasis IoT
Selain bertujuan untuk dinikmati oleh wisatawan. Rekonstruksi tari ini diperuntukkan sebagai bahan ajar pembelajaran mata kuliah seni pertunjukan dan pariwisata budaya di semester 1 di program studi pendidikan seni tari dan musik FS UM.
Adapun judul penelitiannya adalah ‘Rekonstruksi Kerangka Estetika Performance Jaranan Kreasi BTS Tumpang untuk Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Malang’. Anggotanya terdiri atas Dr. Robby Hidajat, M.Sn. (FS UM), Dra.Yuliati, M.Hum., Fakultas Ilmu Sosial (FIS UM), dan Drs. Sumarwahyudi M.Sn.,(FS UM), satu dosen dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr Heriyati Yatim, M.Pd. Ada pula dua mahasiswa terlibat dalam proyek penelitian ini, yaitu Rosaria Putri Anggraeni serta Muhammad Ridho Ramadhan. [dan/but]






