Jember (beritajatim.com) – Birokrat Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, seharusnya belajar dari keberadaan Jember Fashion Carnaval selama ini. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dinilai lebih berhasil belajar dari JFC untuk mengembangkan pariwisata berbasis seni budaya.
Demikian disampaikan Ikwan Setiawan, doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, dalam acara diskusi yang digelar Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Jember, di Rumah Makan Taman Mangli Indah, Kamis (18/8/2022) malam.
[berita-terkait number=”3″ tag=”jfc”]
“Bupati Abdullah Azwar Anas hanya butuh waktu dua tiga tahun untuk belajar dari JFC. Tahun 2011, Anas mengontrak Mas Dynand Fariz bersama tim JFC bukan kemudian untuk disuruh membuat Banyuwangi Ethno Carnival terus,” kata Ikwan.
Para birokrat Banyuwangi justru diperintahkan untuk belajar tentang penyelenggaraan JFC untuk kemudian dikembangkan sendiri. “Ini yang tidak terjadi di Jember. Ironis bagi saya. Jember ini tempat kelahiran JFC, tapi birokratnya tidak belajar bagaimana memaksimalkan potensi JFC untuk menggairahkan dan menumbuhkan kepariwisataan di Jember,” kata Ikwan.
Ikwan menilai, Bupati Anas lebih berhasil. “Dia memang mengeluarkan uang ratusan juta untuk mengontrak jasa Mas Dynand Fariz (pendiri JFC). Tapi dari situ dia dapat pelajaran berharga,” katanya.
“Kita ini punya kekuatan yang bagus. Kalau sekarang lagi ramai konsep ekonomi kreatif. kita sudah punya basic-nya. JFC itu menjadi basic, terlepas pro dan kontranya. Setidaknya Dynand Fariz sudah merintis satu tindakan ekonomi kreatif yang luar biasa,” kata Ikwan. [wir/suf]






