Ringkasan Berita:
- Stranger Guest Halloween Party di Sixth Lounge & Bar, Crown Prince Hotel Surabaya, menghadirkan sajian dessert dengan tampilan menyeramkan.
- Tim pastry membuat kue berbentuk otak manusia, bola mata, hingga jari-jemari menggunakan bahan makanan seperti selai raspberry dan cokelat putih.
- Sejumlah tamu sempat ragu mencicipi karena tampilan dessert dibuat menyerupai bagian tubuh manusia.
- Meski tampil ekstrem, sajian tersebut justru menarik perhatian pengunjung karena memiliki rasa manis dan tekstur lembut.
Surabaya (beritajatim.com) – Kue berbentuk otak manusia dengan lelehan menyerupai darah hingga jari-jemari lengkap dengan kuku menjadi suguhan tak biasa dalam Stranger Guest Halloween Party di Sixth Lounge & Bar, Crown Prince Hotel Surabaya. Tampilan dessert yang sengaja dibuat menyeramkan itu sempat membuat sejumlah tamu ragu untuk mencicipinya.
Di balik gemerlap lampu jingga dan keceriaan 57 tamu yang berswafoto, ada tantangan tersendiri bagi tim pastry hotel. Mereka harus menyajikan makanan dengan tampilan mengerikan, tetapi tetap memiliki cita rasa yang menggugah selera.
Malam puncak Stranger Guest Halloween Party bukan hanya menghadirkan kostum karakter seperti Mavis dan atraksi pesulap. Meja dessert buffet juga menjadi salah satu pusat perhatian karena menyuguhkan aneka pastry dengan bentuk yang tidak biasa.
Bagi tim pastry, merancang sajian Halloween menghadirkan dilema tersendiri. Jika biasanya makanan dibuat dengan tampilan yang menggoda selera, kali ini mereka justru dituntut menghadirkan visual yang membuat tamu terkejut sebelum mencicipinya.
Salah satu staf yang terlibat dalam penyajian dessert, Andin, mengakui tantangan terbesar terletak pada ekspektasi visual. Tim harus mengolah bahan-bahan pastry standar hotel menjadi replika anatomi manusia.
Potongan kue dibentuk menyerupai lekuk otak manusia dengan lelehan selai raspberry kental sebagai pengganti darah. Sementara itu, cokelat putih disulap menjadi bola mata dan deretan jari-jemari dengan kuku renyah.
“Kami memang sengaja membuat wujud pastry ini tidak normal agar tamu kaget dan penasaran di depan meja dessert,” ujar Andin, Selasa (3/11/2026).
Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara tampilan dan cita rasa. Jika terlalu menyeramkan, makanan berisiko tidak tersentuh oleh tamu. Sebaliknya, jika kurang ekstrem, konsep pesta Halloween yang diusung bisa kehilangan daya tarik.
Pengalaman tersebut dirasakan Nina, salah seorang pengunjung yang datang mengenakan kostum karakter Pennywise. Ia mengaku sempat ragu ketika melihat deretan dessert di meja prasmanan.
“Bikin bingung dessert-nya, visualnya seram, tapi ingin banget buat mencicipi. Wujud kue otak dan jari-jemari kelihatan nyata, tapi pas dimakan ternyata enak dan lembut,” kata Nina.
Tantangan tidak hanya dihadapi tim pastry. Staf pelayanan yang bertugas di lantai enam, termasuk Munir dan Sovvie, juga harus membantu menjelaskan sajian kepada para tamu. Mereka tidak sekadar melayani pengunjung, tetapi juga menerangkan bahan dan olahan di balik bentuk dessert yang tidak biasa.
Sovvie menceritakan, sejumlah tamu sempat berdiri ragu di depan meja buffet. Mereka mempertanyakan bahan dasar dan isi makanan sebelum akhirnya memutuskan untuk mencicipinya.
“Banyak yang ragu di awal, beberapa kali sempat ditanya olahan apa ini? Dalamnya isi apa? Tapi setelah dijelaskan, mereka malah balik lagi mengajak temannya,” tutur Sovvie terkekeh.
Ketika pesta berakhir pukul 21.30 WIB dan para tamu dengan busana gothic mulai meninggalkan area lounge, piring-piring dessert yang licin tanpa sisa menjadi bukti respons pengunjung terhadap eksperimen kuliner tersebut. Sajian dengan tampilan ekstrem itu berhasil menarik rasa penasaran tamu, meski sempat membuat mereka berpikir dua kali sebelum mencicipinya. [way/beq]






