Jakarta (beritajatim.com) – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teguh Dartanto, mengaku kaget dengan pertanyan Gibran Rakabuming Raka kepada Muhaimin Iskandar atau Cak Imin soal SGIE atau State of the Global Islamic Economy. Sebab menurut Teguh, Gibran tidak menyertakan penjelasan di awal terkait topik tersebut.
SGIE sendiri adalah laporan yang mengukur kinerja ekonomi Islam di seluruh dunia, berdasarkan berbagai indikator, termasuk keuangan syariah, makanan halal, pariwisata ramah Muslim, dan mode sederhana.
Teguh mengatakan bahwa konteks isu dan persoalan menjadi penting dalam melontarkan pertanyaan. “Menurut saya orang bertanya harus memberikan kontek isu dan persoalan,” ujar Teguh.
Sebelumnya, Gibran melontarkan pertanyaan soal SGIE atas dasar posisi Cak Imin sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dinilai seharusnya paham soal ekonomi Islam. Gibran lantas bertanya langkah apa yang akan dilakukan Cak Imin untuk menaikkan peringkat Indonesia di SGIE.
“Karena Gus Muhaimin adalah Ketua Umum PKB, saya paham Gus paham ini. Bagaimana langkah Gus Muhaimin untuk menaikkan peringkat Indonesia dalam SGIE?” tanya Gibran.
Mendengar pertanyaan itu, Cak Imin bertanya balik dan mengungkapkan bahwa ia tidak memahami apa itu SGIE. Ia juga mengaku tidak pernah mendengar istilah tersebut. Waktu selama dua menit yang seharusnya dipergunakan untuk menjawab akhirnya dikorbankan.
Setelah diperbolehkan menjawab oleh moderator, Gibran menanggapi pernyataan Cak Imin tersebut, dan menjelaskan bahwa SGIE berkaitan erat dengan ekonomi dan keuangan syariah.
“Gus, kita kan sedang fokus mengembangkan ekonomi syariah dan keuangan syariah. Otomatis kita harus paham SGIE. SGIE adalah State of Global Islamic Economy. Dan Indonesia sudah masuk 10 besar di dalamnya terutama makanan halal, kosmetik halal. Mohon maaf kalau pertanyaan saya sulit,” kata Gibran. [kun]






