Surabaya (beritajatim.com) – Jatim I yang meliputi Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo paling sering dikatakan sebagai Daerah Pemilihan (Dapil) Neraka. Sebab, yang bertarung di Dapil Jatim I merupakan elite-elite penting di masing-masing partai politik (parpol).
Benarkah demikian? Hasil Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2019, ada 10 politikus lolos ke DPR RI dari Dapil Jatim I. PDIP meloloskan tiga politikus: Puti Guntur Soekarnoputra, Bambang DH (mantan Wali Kota Surabaya), dan Indah Kurnia (mantan profesional perbankan).
Sebanyak dua kursi DPR RI direbut PKB, dengan tokoh politik yang lolos Syaikhul Islam (anak KH Agus Ali Masyhuri) dan Arzeti Bilbina (selebriti yang kemudian terjun di lapangan politik praktis). Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat, PAN, dan PKS masing-masing memperoleh satu kursi.
Rahmat Muhajirin adalah politikus Partai Gerindra berlatar militer (TNI AL) yang mewakili Dapil Jatim I di DPR RI. Partai Golkar dengan Adies Kadir, PAN oleh Sungkono (seorang pengusaha tas dari Kabupaten Sidoarjo), Lucy Kurniasari mewakili Partai Demokrat dan Sigit Sosiantomo dari PKS adalah politikus partai Islam Modernis yang lolos kali kedua ke DPR RI dari Dapil Jatim I.
Ke-10 politikus sejumlah partai dari Dapil Jatim I yang lolos DPR RI hasil Pileg 2019 punya latar dan jejak sosio politik berwarna. Misalnya, Puti Guntur adalah cucu Bung Karno, Presiden RI pertama dan proklamator kemerdekaan. Bambang DH adalah seorang politikus murni yang sejak awal terjun di politik praktis istiqomah berjuang bersama PDI Pro Mega hingga menjadi PDIP.
Baca Juga:
Perang Bintang di Dapil VI Jatim
Dari PKB ini yang menarik. Syaikhul Islam dan Arzeti berangkat dari latar sosial, politik, dan kultur yang berbeda sama sekali. Syaikhul Islam berangkat dari keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) yang kuat. Ayahnya, KH Agus Ali Masyhuri adalah kiai khos NU dan kini menjabat Wakil Rais Syuriah NU Jatim. Keluarga besar Syaikhul Islam memiliki pengaruh kuat di Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, tak heran hasil Pileg 2019 menempatkan Syaikhul Islam peraih suara terbanyak di Dapil Jatim I dengan 140.631 suara. Raihan suaranya lebih tinggi dibanding Puti Guntur dengan 139.794 suara.
Di sisi lain, Arzeti Bilbina punya background dunia seni dan keartisan yang kuat. Namanya populer di pertengahan tahun 2000-an. Walau demikian, Arzeti mampu melakukan penyesuaian lingkungan dengan cepat dan baik. Dari dunia seni dan artis yang tampak glamor ke dunia politik praktis yang kelihatan serius dan selalu berbicara tentang kepentingan publik.
Dunia keartisan dan ranah politik adalah dua wilayah yang berbeda kultur dan karakternya cukup tajam. Realitas tersebut tak menghalangi Arzeti untuk bisa menekuni, menapaki, dan berkarir di jalur politik dengan sukses. Terbukti dia mampu lebih dari sekali masuk ke Senayan dari Dapil Jatim I.

Melihat peta suara Pileg 2019, dari 10 politikus yang lolos DPR RI dari Dapil Jatim I, raihan suara Lucy Kurniasari (Partai Demokrat) adalah yang terendah dengan 28.378 suara. Sigit Sosiantomo dari PKS dengan 45.755 suara, dan Sungkono dari PAN dengan 50.606 suara. Sedang Bambang DH dari PDIP dengan 123.906 suara, Indah Kurniawati (PDIP) dengan 56.137 suara, Arzeti Bilbina (PKB) dengan 53.185 suara, Rahmat Muhajirin (Partai Gerindra) dengan 86.274 suara, dan Adies Kadir (Partai Golkar) dengan 106.106 suara.
Bagaimana dengan potret caleg DPR RI dari sejumlah partai di Dapil Jatim I? Tampaknya para caleg petahana tetap bertarung di dapil ini. Yang penting dicatat dan dicermati adalah tampilnya sejumlah figur caleg baru bertarung di Dapil Jatim I. Para caleg itu berangkat dari beragam latar dan aktivisme.
Para caleg baru yang sedang mempertaruhkan karir politiknya melalui Dapil Jatim I di antaranya Ahmad Dhani (musisi dan pentolan grup musik Dewa 19) dari Partai Gerindra, Ipong Muchlissoni (mantan Bupati Ponorogo) dari Partai NasDem, Lita Machfud Arifin (istri mantan Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin) dari Partai NasDem, Bambang Haryo S (pengusaha transportasi dan galangan kapal) dari Partai Gerindra, dan lainnya.

Masih ada sejumlah nama tokoh populer dan pesohor lainnya yang bertarung di Dapil Jatim I. Nama-nama tersebut di atas, dari musisi kelas wahid Indonesia semacam Ahmad Dhani dan bos kapal Bambang Haryo S hingga mantan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni bukan kompetitor enteng bagi caleg petahana. Di antara para figur caleg baru tersebut, ada yang memiliki pengalaman empirik di kontestasi pilkada langsung, seperti Ipong Muchlissoni (Ponorogo) dan Bambang Haryo yang pernah terjun di Pilkada Sidoarjo 2020 namun belum beruntung.
Baca Juga:
Nyaleg di Dapil Neraka, Ipong NasDem: Kalau Ada Neraka, Pasti Ada Surga
Selain potret, latar sosial budaya dan politik, serta pengalaman figur caleg, dimensi partai pengusung adalah realitas politik penting yang mesti diperhatikan.
Dalam konteks ini, sejauh catatan kami, PDIP dan PKB adalah dua partai dengan kinerja politik stabil dan konstan di Dapil Jatim I. Kedua partai ini selalu memberangkatkan dua calegnya atau lebih ke DPR RI di setiap kali hajatan pemilu. Terkecuali di Pileg 2009, di mana Partai Demokrat mampu meloloskan lebih dari satu calegnya ke kursi DPR RI. Bahkan, partai ini tampil sebagai pemenang.
Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo dalam peta budaya di Jatim masuk subkultur Arek. Tlatah kebudayaan ini membentang dari utara ke selatan, dari Surabaya hingga Malang. Dapil Jatim I memiliki potret kultur, sosial, dan politik lebih berwarna dan dinamis dibanding dapil lainnya di Jatim.

Setelah industrialisasi masuk, wilayah subkultur Arek jadi menarik bagi pendatang. Menjadikannya salah satu melting pot atau kuali peleburan kebudayaan di Jatim. Pendatang dari berbagai kelompok etnis ada di sini untuk mencari gula ekonomi, pekerjaan dan penghidupan, yang tumbuh pesat.
Karena menjadi tempat hidup banyak komunitas sosial dengan latar kultural yang beragam, maka potret budaya yang terbentuk di kawasan Arek ini hasil sentuhan dari aneka kultur lokal maupun asing. Karakter warga dan pemilih di kawasan Arek, khususnya Surabaya dan Sidoarjo adalah mereka mempunyai semangat juang tingi, solidaritas kuat, terbuka terhadap perubahan, sudi mendengarkan saran dan pendapat orang lain, dan mempunyai tekad menyelesaikan segala persoalan melalui cara yok opo enake. Model solusi yang menyenangkan semuanya atau win-win solution.
Dengan potret latar sosiologis, kultural, dan politik seperti itu, Dapil Jatim I menjadi teritori politik yang memberi peluang bagi para caleg untuk meraup suara. Model pendekatan key person, dalam sejumlah hal, kurang efektif. Sebab, preferensi politik pemilih di Dapil Jatim I lebih cair dan faktor ketokohan sosial bersifat tunggal serta kuat mulai berkurang di dapil ini.
Pengaruh key person bersifat menyebar ke banyak aspek kehidupan warga, tak semata-mata memusat ke tokoh religi dan atau aliran dalam satu agama. Banyak pemilih di Dapil Jatim I memiliki independensi dan otonomi politik yang kuat. [air]






