Ngawi (beritajatim.com) – Damkar Ngawi mengaku kewalahan imbas minimnya armada khususnya untuk penyelamatan. Satu unit mobil Damkar yang standby di wilayah barat terpaksa pontang-panting. Mulai harus standby di lokasi laka air di Desa Bangunrejo Kidul Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi, Jawa Timur dan harus melakukan penanganan kebakaran di Desa Gendingan Kecamatan Kedunggalar Ngawi.
Kabid Damkar Satpol PP Ngawi Tri Bimo mengaku kewalahan dan timnya yang berada di pos barat atau Widodaren harus pontang-panting. Berawal saat mereka harus bersiap di lokasi kejadian laka air di Desa Bangunrejo Kidul Selasa (20/12/2022) pukul 15.00 WIB. Hal itu sudah sesuai dengan tupoksi mereka yang kini bertambah tugas evakuasi dan penyelamatan.
Karena tak memiliki kendaraan khusus untuk tugas evakuasi dan penyelamatan, pihaknya tetap membawa mobil damkar yang disiapkan di Kantor Kecamatan Widodaren. Namun, pada pukul 22.00 WIB, ada laporan kebakaran di Desa Gendingan Widodaren Ngawi yang membutuhkan bantuan pemadaman.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kebakaran”]
Mobil damkar yang hanya satu itu langsung kembali ke arah Widodaren guna melakukan penanganan kebakaran. Beruntung kebakaran itu tidak besar, sehingga masih bisa tertangani. Jika kebakarannya besar Bimo meyakini jika pihaknya tak akan bisa menanganinya dengan maksimal.
“Apa yang kami khawatirkan akhirnya terjadi. Mobil damkar kami yang seharusnya bisa dimaksimalkan hanya untuk penanganan kebakaran sempat terpakai untuk menuju ke lokasi laka air, saat masih berada di sana, ada kebakaran di Widodaren. Pontang-panting jadinya,” kata Tri Bimo, Rabu (21/12/2022).
Dia mengatakan jika hanya memiliki satu mobil damkar yang standby di Pos Barat. Sehingga, selain butuh armada damkar yang lebih utama adalah armada untuk penyelamatan. Menurutnya, dengan SK yang mengatakan untuk tambahan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) seharusnya segera ada tambahan sarana prasarana untuk penyelamatan.
“Mobil damkar tidak sepantasnya digunakan untuk penanganan non kebakaran. Sehingga, harus ada armada sendiri untuk menangani laporan non kebakaran. Ditambah sarana dan prasarananya. Kami belum dilengkapi dengan sarpras penyelamatan,” katanya.
Dia mengharap setidaknya untuk penanganan laka air harus ada landing craft rubber (LCR) atau perahu karet. Selain itu, sarana lain yang melengkapi tupoksi mereka sebagai penyelamat. “Kami mengharap dengan tambahan tupoksi ini segera ada tambahan sarpras. Supaya kami bisa bekerja.dengan maksimal,” pungkas Bimo. (fiq/kun)






