Jember (beritajatim.com) – Heboh urusan pamer paha bukan sekali ini terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tiga tahun sebelum kehebohan pertunjukan fesyen yang memamerkan paha di tengah acara kontes Gus dan Ning Kabupaten Jember, paha mulus dan dandanan seksi artis Cinta Laura pernah menuai protes keras dan aksi unjuk rasa.
Cinta Laura kala itu tampil dalam Jember Fashion Carnaval (JFC), Minggu (4/8/2019). JFC adalah karnaval fesyen di atas jalan raya sepanjang 3,6 kilometer dan diikuti 600 orang model yang berasal dari warga biasa. Saat itu adalah tahun ke-18 penyelenggaraannya.
Dalam akun instagramnya, claurakiehl, Cinta Laura berterima kasih kepada JFC yang telah menampilkan keberagaman budaya di Indonesia. “A people without the knowledge of their past, origin and culture is like a tree with no roots. Thank you @jemberfashioncarnaval for showcasing the cultural diversity Indonesia has to offer!” tulisnya.
Cinta boleh senang, namun tidak demikian halnya dengan sejumlah kalangan di Jember. Penampilannya dianggap terlalu vulgar. Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur saat itu mendesak agar JFC dibubarkan. “Pertama, ada umbar aurat. Ada kemungkinan meninggalkan salat. Kedua, tidak ada manfaat. Apa sekarang manfaat dari kemaksiatan? Dosa. Mendapatkan uang dari acara maksiat? Haram,” kata Ketua FPI Jatim Habib Haidar Alhamid.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember Kusno saat itu juga menyayangkan penampilan Cinta Laura. “Masyarakat Jember terkenal sebagai masyarakat agamis, relijius, santri dan kemudian mendapat suguhan yang sebenarnya tidak perlu sevulgar itu. Kita menyayangkan,” katanya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Jember menilai penyelenggara Jember Fashion Carnaval teledor. “Dari penjelasan pihak JFC, (aksi umbar aurat) itu di luar rencana manajemen, karena yang mengatraksikan adalah tamu (Cinta Laura) yang tidak sempat dicek keseluruhan. Tapi apapun pihak manajemen JFC harus bertanggung jawab dengan terjadinya kemarin sekaligus juga Pemkab Jember,” kata Ketua PCNU Jember Abdullah Syamsul Arifin.
“Ini memang murni secara teknis keteledoran JFC, karena konten biasannya dirembuk dulu, dipresentasikan. Tapi ini tidak,” kata Ketua MUI Jember Abdul Halim Subahar.
[berita-terkait number=”4″ tag=”cinta-laura”]
Penampilan Cinta Laura dalam JFC juga membuat jagat politik bergolak. Sidang paripurna pandangan umum fraksi-fraksi terhadap Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah di DPRD Jember, Selasa (6/8/2019), menjadi ajang kecaman untuk JFC.
Kecaman galak meluncur dari Siti Romlah, juru bicara Fraksi Partai Hanura-Demokrat (Harkat). “Pornoaksi JFC menodai citra Kabupaten Jember,” katanya.
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa menilai perhelatan fesyen tersebut sudah keluar dari jiwa masyarakat Jember yang relijius. “Kiranya kita sudah sepakat, bahwa tidak menutup paha laki-laki maupun wanita adalah sama dengan tidak menutup aurat. Apalagi yang terpampang di depan mata malah sampai pangkal paha,” kata Imam Suyuti, juru bicara PKB.
PKB dan Partai Keadilan Sejahtera meminta agar izin untuk JFC ditinjau ulang. “Kejadian beberapa hari lalu seolah-olah merobek ikatan yang ada di Kabupaten Jember. Kita terkenal di sini sebagai kota santri, ribuan pondok pesantren, ribuan alim ulama, termasuk Pak Wakil Bupati adalah seorang ulama,” kata Nurhasan, juru bicara Fraksi PKS saat itu.
Tak cukup kecaman, aksi unjuk rasa juga digelar Aliansi Santri Jember di depan Kantor Bupati, Rabu (7/8/2019). Koordinator aksi Fathurrohman mengatakan, para santri tidak akan bergerak jika tidak ada talenta yang berpakaian vulgar.
“Kami menganggap itu tidak pantas dinikmati khalayak umum. Apalagi, yang membuat kami merasa berat hati adalah yang menonton: generasi kita. Mau dijadikan apa generasi kita kalau yang ditonton itu,” kata Fathurrohman saat itu.
[berita-terkait number=”3″ tag=”jfc”]
CEO Jember Fashion Carnaval Suyanto mengakui kelalaian yang dilakukan panitia dalam acara karnaval fesyen itu. “Kalau (penampilan Cinta Laura) ini kan dari luar yang kami belum berkomunikasi banyak dan lain sebagainya, itu bisa saja terjadi,” katanya.
“Persiapan JFC berlangsung lama, setahun sebelumnya. Kami fokusnya ke persiapan talent yang kami rekrut dari masyarakat dan sebagainya, sehingga bisa saja terjadi apa yang kami harus lakukan lalu kami lalai. Ini kelalaian panitia,” kata Suyanto.
Kehebohan itu berakhir, setelah Bupati Faida meminta maaf. “Saya dan Kiai Muqit sebagai bupati dan wakil bupati juga menyampaikan permohonan maaf. Apapun yang terjadi di Jember, walaupun event ini ada manajemennya, pemerintah daerah tidak masuk dalam detail content, namun yang terselenggara di Jember yang paling bertanggung jawab adalah saya selaku bupati,” katanya. [wir/suf]






