Surabaya (beritajatim.com) – Bermain di Stamford Bridge, Chelsea menguasai pertandingan sejak menit awal ketika mendapat lawatan dari Southampton. Kembali bermain dengan 3-4-2-1, Chelsea mengandalkan pemain-pemain di sisi sayap untuk membongkar pertahanan Southampton.
Terbukti, kerjasama Werner bersama Azpilicueta di sisi sayap kanan dan Hudson Odoi bersama Chilwell di sisi kiri berkali-kali mampu meerepotkan para pemain bertahan Soton, sebutan Southampton. Bermula dari kerjasama pemain-pemian sayap ini pula gol pertama mereka tercipta.
Umpan silang Azpilicueta setelah bekerjasama dengan Werner dan Lukaku menghasilkan sepakan pojok pertama bagi Chelsea. Eksekusi sepakan pojok Chilwell pun berhasil di sambut Trevoh Chalobah dengan diving header, dan Chelsea memimpin 1-0 di menit 8.
Berkat gol ini, pemain yang baru menjalani musim perdananya di tim utama Chelsea telah mengoleksi dua gol dari empat pertandingan. Selain klinikal di depan gawang, sepanjang pertandingan, pemain lulusan akademi Chelsea ini pun bermain dengan cukup baik. Ia baik dalam memulai build up, juga bisa beradu cepat dengan pemain sayap Soton seperti Tella dan Redmond.
Setelah mendapat gol pertama, Chelsea bermain lebih percaya diri. Mereka terus membombardir pertahanan Soton yang menerapkan low block. Beberapa peluang besar pun berhasil didapatkan Chelsea berkat pergerakan Werner dan Hodson Odoi yang berkali-kali lolos sampai ke kotak pinalti.
Mereka pun sempat mencetak dua gol tambahan sebelum babak pertama berakhir. Namun, kedua nya dianulir oleh wasit. Gol Lukaku, setelah menerika umpan dari Rudiger yang melakukan solo run dari lini belakang ternyata telah terperangkap offside.
Sedangkan gol yang di cetak Werner melalui heading setelah menerima umpan dari Odoi, dianulir setelah wasit mengecek video VAR. Azpilicueta yang merebut bola dari pemain Soton sebelum gol terjadi, dinilai telah melakukan pelanggaran.
Mengawali babak kedua, Soton meggantikan Walcott yang selama pertandingan gerakannya selalu berhasil ditutup oleh Chilwell dan Rudiger dengan Ibrahima Diallo. Berkat pergantian ini, Soton berhasil memperbaiki permainan mereka. Formasi pun berubah dari 4-4-2 ke 4-2-3-1 dengan Redmond mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Walcott. Meninggalkan Amstrong sendiri di posisi nomor 9.
Pergantian ini membuat lini tengah Soton lebih rapat dan membuat Kovacic dan Loftus-Cheek kesulitan. Livramento di sisi kanan pun menjadi lebih leluasa overlap. Berkat pergerakan Livramento pula Soton berhasil mendapatakan hadiah pinalti.
Livramento yang mendapat ruang kosong melakukan penetrasi ke kotak pinalti dan berhasil mengecoh Chilwell. Tackling Chilwell yang terlambat dilakukan pun membuat Livramento terjatuh dan pinlati. Eksekusi Ward-Prowse pun meluncur deras ke sisi kiri gawang Benjamin Mendy.
Sayangnya, 16 menit kemudian Ward-Prowse harus meninggalkan lapangan setelah menerima kartu merah. Tacklingnya dari belakang ke Jorginho dinilai berbahaya. Setelah hanya bermain dengan 10 pemain, Soton pun lebih di kurung dan hanya bisa bertahan. Kondisi ini membuat Chelsea semakin dominan dan berhasil mencetak 2 gol pengunci kemenangan.
Gol kedua dicetak oleh Werner setelah bola diagonal Barkley diteruskan dengan umpan silang mendatar Azpi berhasil disepak Werner dari jarak dekat. Gol terakhir dicetak oleh Chilwell melalui tendangan voli keras.
Sebelumnya, backpass dari Mount berhasil disambar Lukaku, namun masih membentur gawang sisi kiri. Bola muntah di tendang lagi oleh Azpi dan kembali membentur mistar. Bola melambung tinggi dan langsung disambar Chilwell untuk menutup pertandingan dengan skor 3-0. Chilwell pun seolah menebus keselahannya karena menyebabkan Chelsea kebobolan dari titik putih. [tur/bjo]






