Madiun (beritajatim.com) – Poniran (66) salah satu pekerja topeng monyet menyerahkan monyet ekor panjang ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Sebelumnya, dia merintis usaha topeng monyet itu sejak tahun 1970. Menurutnya, masa jaya profesi tersebut terjadi di era Presiden Soeharto.
“Sudah lama saya merintis. Dulu saya pernah keliling sampai di Banda Aceh, Manado, hingga ambon. Saya beli monyet itu dulu di Walikukun, Ngawi. Sedikit gak ikhlas sebenarnya,” kata Poniran.
Usai menyerahkan monyet, dia mendapatkan bantuan senilai Rp3,5 juta agar bisa dijadikan modal untuk mendapatkan mata pencaharian yang lain. “Kalau pendapatan saat ini jangankan buat makan keluarga, buat saya pribadi masih kurang. Dapatnya Rp 300 sampai Rp 500 ribu. Kompensasi kurang segitu tidak sebanding sama modal awal. Kalau dibuat usaha juga saingan banyak,” ucapnya.
Terpisah, Plt Kepala Bidang KSDA Wilayah Satu Madiun Andik Sumarsono menyebut jika pihaknya menerima puluhan monyet dari sejumlah pengusaha topeng monyet. Monyet itu diserahkan di Kantor Desa Kertosari, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Rabu (1/3/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”madiun”]
Primata bernama latin Macaca fascicularis tersebut diserahkan secara sukarela, kemudian dimasukkan ke dalam kandang. Tak ketinggalan, peralatan pementasan topeng monyet ikut dibungkus ke dalam karung. Para pelaku usaha ini juga diberikan sosialisasi dan edukasi.
“Dengan kegiatan tersebut mudah mudahan topeng monyet di Jawa Timur semakin berkurang. Pelatihnya sudah kami berikan pemahaman dan bantuan untuk alih karya, supaya mencari pekerjaan yang lebih baik,” ujar.
Petugas akan memeriksa kesehatan monyet, kemudian direhabilitasi agar dapat kembali ke habitatnya. Hewan dengan nama latin Macaca Fascicularis itu akan dilepas ke Suaka Margasatwa Nusa Barong Jember.
“Jumlahnya ada 23 ekor jenis monyet ekor panjang. Madiun ini induknya pelatihan monyet di Jawa Timur. Jadi pusat pendidikan monyet yang dilatih beraktivitas manusia. Maka dari itu sasaran kami berada disini,” bebernya.
Para pekerja topeng monyet diberikan bantuan sebesar Rp3,5 juta, tujuannya segera beralih profesi agar bekerja lebih baik. Serta tidak beraktivitas dengan satwa lagi, mengingat resikonya cukup tinggi. “Bisa mengakibatkan satwa tidak nyaman, berdampak terhadap kesehatan masyarakat karena dipertontonkan, menularkan penyakit seperti TBC, Rabies, dan Flu. Struktur tubuh monyet sama dengan manusia. Belum lagi menimbulkan kekerasan perubahan perilaku,” pungkasnya.[kun]






