Malang (beritajatim.com)– Memulai karir di dunia IT, Caesario Prima Bahari justru harus banting setir. Pria asal Jakarta ini ingin mengasah kemampuannya agar bisa bersaing di dunia profesional.
“Saya tidak rela menghabiskan hidup di layar laptop. Kemudian, di tahun 2016 saya mulai jatuh cinta ke dunia komunikasi. Spesifiknya, di bidang event dan community,” terang pria yang akrab disapa Rio ini.
Rio mengaku, hidupnya terasa penuh tantangan ketika di umur 20 tahun. Saat itu, ia harus bisa membiayai hidup sendiri karena terjadi masalah ekonomi yang luar biasa di keluarga.
“Ada dua pilihan waktu itu, pulang jadi pecundang, atau bertahan melawan keadaan. Saya pilih opsi kedua,” kata Rio optimis.
Kemudian, pada tahun 2017, ia mengerahkan kegemarannya tersebut dengan bekerja di Ngalup.Co, yang saat itu masih co-working space. Disana, ia berperan menjadi Community Host.
“Ini pekerjaan pertama saya. Selama empat tahun, saya belajar menjadi expert di bidang ini bersama leader sekaligus mentor saya Andina Paramitha, dan juga sahabat saya Ariq Nugraha. Kemudian, setelah lulus kuliah, saya memutuskan untuk adu nasib di kampung halaman,” kata dia.
Pekerjaan tersebut ternyata meninggalkan kesan yang membekas bagi Rio. Sebab, saat bekerja disana, ia mengaku banyak belajar dan mengumpulkan pengalaman.
“Hal-hal tersebut berhasil membentuk mental dan mindset saya untuk menjadi seorang event & community enthusiast yang mampu bersaing di ibukota. Bagian paling seru dari pekerjaan ini adalah network yang terbentang luas se-Indonesia Raya. Sekarang kalo mau ke luar kota jauh lebih mudah karena punya kolega dari barat hingga ke timur nusantara,” kata pria berzodiak Pisces.
Saat kembali ke ibukota, Rio kemudian bekerja di salah satu startup edutech. Selama dua tahun, ia mulai mengikuti ritme dan menjawab berbagai tantangan disana.
“Ternyata, speed dan ritme bekerja di ibukota cukup menegangkan dan mengejutkan,” kata dia sambil tersenyum.
[berita-terkait number=”3″ tag=”showup”]
Kemudian, pada tahun 2023 ini, Rio bekerja di salah satu SaaS (software as a system) terbesar di Indonesia, Mekari. Menurut Rio, setiap menjajaki profesi baru, challengenya ada di adaptasi dengan budaya kerja yang baru.
“Mungkin secara pekerjaan tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, kita bisa mengandalkan basic yang sudah dilatih dari awal bekerja sebagai profesional. Tapi masalah budaya kerja, kita perlu belajar lagi. Gimana cara berkomunikasi di internal tim hingga antar divisi, how to solve the problems, target seperti apa yang diharapkan, sampai gimana leadership development bisa membawa diri kita stand out,” papar pria kelahiran 1996 ini.
Berdasarkan pengalaman kerja tersebut, Rio sering terlibat project-project besar. Antara lain 1000 Startup Digital (Kemenkominfo), Gerak KaryaMula (Kemenparekraf), Startup Weekend (Techstar), MauBelajarArt dan Mekari Conference.
Rio menambahkan, sejak usia 20 tahun, ia membayangkan the big picture of my life sebagai bentuk motivasi agar selalu berkembang..
“Saya selalu membayangkan bahwa saya adalah seorang entertainer yang laris manis di usia 30, punya keluarga yang bahagia, menjadi pebisnis yang sukses di umur 35, dan bisa financial freedom di usia 45 tahun,” kata pria yang memiliki hobi bermusik ini.
Dia berharap, ke depan, apa yang dia kerjakan saat ini hingga di masa mendatang bisa memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga hingga orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Mau seberapapun kesenangan yang kita dapetin atau seberapa berat masalah yang lagi dihadapi, jangan sampai lupa untuk doain orang tua. Buat mereka happy sebagaimana mestinya. Semua keberkahan turunnya lewat situ. Yang saya selalu yakini, kebahagiaan orang tua berbanding lurus dengan keberhasilan-keberhasilan yang kita dapatkan selama nafas ini masih ada. #FamilyFirst,” tandas Rio.
==============
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






