Lamongan (beritajatim.com) – Menjelang Pilkada 2024, sejumlah pembahasan mengenai kandidat Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lamongan semakin mengerucut. Mulai dari lembaga survei hingga masyarakat di akar rumput turut ambil bagian dalam meramaikan kontestasi ini.
Dari beragam pembahasan itu, muncul pula tentang pembacaan sosok Bupati Lamongan yang kerap didominasi oleh orang-orang dari trah Sidayu.
“Dalam perang (Pemilukada), trah Lamongan selalu kalah dengan trah Sidayu. Fakta. Trah Lamongan seringkali cukup jadi Wakil Bupati saja,” ujar Pemerhati Sejarah Lamongan, Supriyo, Rabu (7/6/2023).
Supriyo menjelaskan bahwa apa yang diungkapkannya itu berdasarkan pembacaan atas fenomena yang terjadi, baik saat era Bupati Lamongan dijabat oleh Masfuk hingga Yuhronur Efendi saat ini. Bahkan, Bupati Lamongan periode 1707-1723, Panji Surengrana, tanpa terkecuali.
“Saya baca fenomena dari yang sudah terjadi. Mungkin secara demografis lebih banyak, dan memang trah Sidayu sejak pasca Mbah Lamong jadi penguasa Lamongan. Panji Surengrana misalnya, yang berasal dari keturunan Kiai Ageng Brondong,” bebernya.
Lebih lanjut, Supriyo menyebut bahwa Bupati Lamongan secara berturut-turut seperti Masfuk, Fadli dan Yuhronur merupakan trah Sidayu, dengan Wakil Bupatinya seperti Amar Syaifudin dan Kartika Hidayati yang dari trah Lamongan.
“Dalam Pilkada, sejak Masfuk sampai Yuhronur Cabup yang jadi kan dari eks wilayah Sidayu. Dengan komposisi Bupati (Sidayu) – Wabup (Lamongan). Masfuk dan Fadli representasi Sidayu (Glagah), lalu Yuhronur representasi Sidayu (Karanggeneng),” terangnya.
Melihat pembacaan atas fenomena tersebut, muncul pertanyaan selanjutnya, ‘apakah bandul kepemimpinan politik di Pilkada Lamongan 2024 mendatang akan berbalik?’
Baca Juga: AIPDA Purnomo, Polisi Sejuta Kebaikan yang Rawat 175 ODGJ di Lamongan
Sebagai informasi, nama Sidayu atau (Sedayulawas: sekarang) disebut dalam catatan sejarah dinasti Yuan pada tahun 1293 sebagai tempat berlabuhnya sebagian tentara Tartar dari China-Mongol yang dikirim oleh Kubilai Khan untuk menaklukan Jawa dan tercatat dalam rekaman perjalanan rombongan pelaut Belanda pada tahun 1596 sebagai tempat terbunuhnya 12 awak kapal anak buah Cornelius de Houtman saat pertama datang ke Nusantara.
Tapi banyak ahli sejarah yang mengira bahwa Sedayu yang tercatat dalam peristiwa sejarah tersebut adalah Sedayu yang berada di wilayah Kabupaten Gresik sekarang. Padahal, Sedayu adalah daerah baru pada zaman Mataram Islam, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa ada hubungan historis antara Sedayu dan Sedayulawas di masa lalu.
Menurut catatan tahun 1752, menunjukkan bahwa pusat kota Sedayu (Sedayulawas) berada di dekat Tuban, sebelum Belanda memindah pusat pemerintahan Kadipaten Sedayu ke arah timur (Sedayu, Gresik), dan akhirnya di awal abad ke-20 kota lama Sedayu (Sedayulawas) dijadikan bagian dari Kabupaten Lamongan.[riq/ted]






