Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto akan berkeliling mengunjungi ratusan desa di Kabupaten Jember, Jawa Timur, selama Ramadan tahun ini. Ia akan melaksanakan program ‘Wes Wayahe Jember Berbagi’.
“Kami akan berkeliling ke desa-desa selama Ramadan, sambil berbagi kepada masyarakat dan saudara-saudara kami yang lain. Ada sekitar 120 desa yang akan kami kelilingi,” kata Hendy, Minggu (3/4/2022).
Hendy akan mulai berkeliling pada jam sebelas siang. “Salat di masjid. Ada empat masjid untuk salat duhur, asar, magrib, dan isyak. Di sela-sela itu, kami berbagi sembako, bantuan langsung tunai, dan berbagi untuk musala dan masjid,” katanya.
Hendy akan mengajak komunitas dan pemangku kepentingan lainnya untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. “Terserah apakah mau bergabung dengan kami. Tidak ada rapat khusus. Isinya hanya berbagi dan menyapa warga. Say hello dan salat serta tarawih bersama mereka,” katanya.
Program ini menjadi pilihan selama Ramadan karena Hendy merasa harus selalu mendekat ke warga untuk mengetahui kondisi mereka di tengah berakhirnya pandemi. “Sekalian mengecek sarana dan prasarana seperti pekerjaan perbaikan jalan dan lain-lain. Ini penting sekali di bulan suci Ramadan,” katanya.
Hendy juga akan berkunjung ke pondok-pondok pesantren dan bertemu para kiai di sana untuk membicarakan persoalan santri. “Kami juga ada pasar santri di alun-alun. Nanti teman-teman santri kita yang sudah selesai mengaji dan mondok, nanti akan mengerjakan apa. Kami sedang menelusuri itu dan mencari solusi cepat untuk itu,” katanya.
Setelah salat tarawih di sejumlah tempat selama Ramadan, Hendy baru akan kembali salat di kampung halamannya, sehari atau dua hari sebelum Ramadan berakhir. Pada hari pertama salat tarawih, sabtu (2/4/2022) malam, dia beribadah di kampung halamannya sendiri, di Lingkungan Kampung Ledok, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
[berita-terkait number=”4″ tag=”hendy-siswanto”]
Kampung Ledok adalah kampung halaman tempat kelahiran Hendy Siswanto. Sampai saat ini keluarga besarnya tinggal bersama di sebuah rumah besar pribadi. Bagian depan rumah biasa digunakan untuk salat tarawih setiap tahun. “Bukan hanya untuk keluarga saya. tapi juga untuk umum. Ada tetangga kampung dan warga luar. Kami tetap pakai standar protokol kesehatan,” kata Hendy.
Menurut Hendy, ada 200-300 orang yang berjamaah. “Anak-anak paling banyak. Siapa lagi yang menampung anak-anak (beribadah salat). Biar tidak mengganggu di masjid dan musala, lebih baikl salat di tempat saya saja, karena mereka penerus bangsa,” katanya.
Ada 17 orang ustaz yang bergantian menjadi imam salat tarawih selama Ramadan. Mereka sudah bersama-sama keluarga besar Hendy selama dua puluh tahun. “Mereka istiqomah mengimami bergantian,” katanya. [wir/ted]






