Mojokerto (beritajatim.com) – Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Mojokerto, Muhammad Husain memastikan stok beras untuk program pemerintah di wilayahnya masih aman hingga tahun depan. Kepastian ini ia sampaikan saat mendukung pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di seluruh kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Rabu (3/9/2025).
Menurut Husain, GPM merupakan tindak lanjut dari program pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Pertanian (Kementan). Gelaran serentak sebelumnya dilaksanakan Sabtu (30/8/2025) lalu. “Pada waktu itu (GPM pertama), kita siapkan 7 ton di masing-masing kecamatan. Melihat animo masyarakat yang tinggi, maka kegiatan GPM kembali digelar. Untuk yang kedua ini, merupakan inisiatif langsung dari Bapak Bupati Mojokerto,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaan GPM kedua ini, Perum Bulog Mojokerto menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), minyak goreng MinyaKita, serta gula premium. Setiap kecamatan mendapat jatah 1 ton beras SPHP, sementara khusus Kecamatan Mojosari disediakan 5 ton.
Husain menegaskan, harga beras SPHP yang dijual di GPM jauh lebih murah dibandingkan harga pasar. “Harga beras SPHP yang dijual Rp11.500 per kilogram atau Rp57.500 per kemasan 5 kg. Sedangkan di pasaran, beras medium masih berada di kisaran Rp12.500 hingga Rp13.500 per kilogram,” katanya.
Menurutnya, langkah ini bukan hanya membantu masyarakat mendapatkan harga terjangkau, tetapi juga menekan spekulasi harga beras di pasar. “Masyarakat tidak perlu panik. Stok kita cukup hingga tahun depan. Bahkan kalau ada gejolak harga di pasar, Bulog siap intervensi dengan SPHP,” tambah Husain.
Ia menambahkan, program SPHP untuk stabilisasi harga pangan akan terus dilaksanakan hingga Desember 2025. Selain GPM, Bulog Mojokerto juga setiap hari mendukung kegiatan pasar murah bersama Polres, Polsek, Kodim, hingga Koramil. “Kalau GPM ini sifatnya momentum bersama pemerintah daerah, baik dengan Disperindag maupun Ketahanan Pangan. Di luar itu, kami juga menyalurkan beras SPHP ke pasar, koperasi merah putih, swalayan, dan koperasi binaan pemda,” paparnya.
Dengan ketersediaan stok yang terjamin hingga 2026, Bulog Mojokerto optimistis harga beras dapat dikendalikan sehingga tidak menekan daya beli masyarakat.
Secara nasional, pemerintah pusat memang sedang gencar menggelar operasi pasar dan GPM di berbagai daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pangan masih menjadi salah satu faktor utama inflasi nasional. Beras sebagai komoditas strategis berkontribusi signifikan terhadap kenaikan indeks harga konsumen dalam beberapa bulan terakhir.
Oleh karena itu, keberadaan SPHP menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas harga. Pemerintah melalui Bulog mengalokasikan jutaan ton beras untuk program ini agar inflasi pangan tetap terkendali, terutama menjelang akhir tahun ketika konsumsi masyarakat cenderung meningkat.
Kabupaten Mojokerto sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara produksi lokal dengan intervensi pasokan Bulog. Selain menyalurkan beras, GPM juga menyediakan minyak goreng MinyaKita dan gula premium untuk memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi dengan harga wajar.
“Dengan adanya GPM serentak ini, kami ingin menunjukkan bahwa pemerintah hadir langsung untuk masyarakat. Masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih murah dan tidak khawatir dengan isu kelangkaan beras,” ujar Husain. [tin/beq]






